AnNisa ayat 5). Bahkan pengabaian akal berpotensi mengantar seseorang tersiksa di dalam neraka (Q.S. Al-Mulk ayat 11). Melalui akal, lahir kemampuan menjangkau pemahaman sesuatu yang pada gilirannya mengantar pada dorongan berakhlak luhur. Ini dapat dinamai al-'aql al-wazi', yakni akal pendorong.
0% found this document useful 0 votes2K views10 pagesDescriptionHADITS TENTANG TASAWUFCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes2K views10 pagesDasar Dasar Al Hadits Tentang TasawufJump to Page You are on page 1of 10 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 9 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Ilmual-Quran dan Tafsir; Ilmu Hadis; Tasawuf dan Psikoterapi; Magister Ilmu al-Quran dan Tafsir; Link. Tutorial; Blanko / Surat Hasil Verifikasi dan Ujian; Simak; Perpustakaan; Tentang Kami; Visi dan Misi; Dosen dan Pegawai; Akademik. Akreditasi. UIN RADEN FATAH; Studi Agama-Agama; Aqidah dan Filsafat Islam; Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir;
Ketika menelusuri berbagai literatur, akan banyak dijumpai pengertian tasawuf yang sangat variatif dengan keragaman pencetus dan penggagasnya. Keragaman varian ini tentu saja bukan menunjukkan kontradiksi antar pengertian tasawuf itu sendiri. Hal itu disebabkan tasawuf pada hakikatnya merupakan pengalaman pribadi seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga kecenderungan dan pengamalan spiritual individu tentu saja berbeda-beda sesuai dengan maqam tasawufnya. Oleh karena itu, wajar apabila setiap orang dalam menjelaskan arti atau definisi tasawuf dalam konteks pemikiran pengalaman keberagamaannya berdasarkan intuisi masing-masing individu dimana kemunculan istilah tasawuf, dan setiap sufi pun memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kondisi pengalaman yang dialaminya. Makna Tasawuf Secara Umum Namun jika dilihat secara umum makna tasawuf ialah suatu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati, mengisinya dengan sifat-sifat terpuji melalui mujahadah dan riyadhah, sehingga merasakan kedekatan dengan Allah dalam hatinya dan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, sehingga dapat tampil sebagai sosok pribadi yang berbudi luhur dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apakah pengertian tasawuf itu sendiri dalam perspektif Al-Qur’an ? Tidak ada kata Tasawuf didalam Al-Quran Sedangkan pengertian tasawuf sendiri tidak dikenal dalam Al-Qur’an, maka predikat sufi pun sebenarnya bukan menjadi target ukuran kesalehan. Dalam hal ini beberapa ulama menyamakan sufi dengan wali agar lebih Qurani. Ini masih perlu diperdebatkan, sebab wali ada juga yang berkontasi tinggi, wali thogut, wali syaithan. Akan lebih aman lagi jika term muflihun adalah term yang patut dipopulekan dan dilestarikan karena lebih mencerminkan jiwa Al-Qur’an. Semangat ahl-al-salaf al-Shalih masih terus relevan dengan slogan “back to Al-Qur’an and as-Sunnah”. Istilah lain yang mungkin tepat untuk penamaan tasawuf berdasarkan Al-Qur’an adalah “Ilmu al Qarb”. Diartikan oleh Valiudin sebagai “pengetahuan mengenai pendekatan kepada Allah”. Meskipun kata tasawuf tidak terdapat dalam Al-Qur’an, para tokoh sufi dan juga termasuk dari kalangan cendekiawan muslim memberikan pendapat bahwa sumber utama ajaran tasawuf adalah bersumber dari Al-Qur’an, Karena Al-Qur’an adalah kitab yang di dalamnya ditemukan sejumlah ayat yang berbicara tentang inti ajaran tasawuf. Adapun ajaran-ajaran tasawuf yang terdapat dalam Al-Qur’an seperti ajaran tentang khauf, raja’, taubat, zuhud, tawakal, syukur, sabar, ridha, fana, cinta, rindu, ikhlas, ketenangan, dan sebagainya secara jelas diterangkan dalam Al-Qur’an, antara lain tentang mahabbah cinta terdapat dalam Surah al-Maidah ayat 54, tentang taubat terdapat dalam surah at-Tahrim ayat 8, tentang tawakal terdapat dalam surat at-Tholaq ayat 3, tentang syukur terdapat dalam surat Ibrahim ayat 7, tentang sabar terdapat dalam surah al Mukmin ayat 55, tentang ridha terdapat dalam surah al-Maidah ayat 119 dan sebagainya. Selain itu, dalam Tasawuf terdapat beberapa praktik yang sesuai dengan ajaran Islam, contohnya berupa ibadah, dzikir, nilai-nilai yang terdapat dalam maqamat dan ahwal, penghormatan terhadap guru dan lain-lain. Sedangkan praktik-praktik dalam bentuk tradisi Islam dalam tasawuf adalah praktik keseluruhan tasawuf dalam bentuk individual, atau dalam bentuk tarekat yang berkelompok. Berkontemplasi atau membentuk komunitas tertentu kemudian mengadakan ritual atau ceremonial untuk be riyadhah pada tempat-tempat tertentu. Sedangkan implikasi terhadap kata tasawuf itu sendiri dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dari akar kata yang paling tepat untuk kata tasawuf diatas maka hanya ada satu ayat yang menyinggung tentang itu, yaitu dalam QS. An-Nahl ayat 80. وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ Artinya “Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah kemah-kemah dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawa nya diwaktu kamu berjalan dan waktu kami bermukim dan dijadikan Nya pula dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan yang kamu pakai sampai waktu tertentu”. Dorongan Ayat di dalam Al-Quran untuk bersikap Sufi Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong umat manusia untuk bersikap sufi, seperti ayat yang memerintahkan agar manusia selalu menyucikan jiwanya As Syams 9, Al-A’la 14, Abasa 3 dan 7, ayat yang memandang rendah kehidupan duniawi dan menjelaskan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik seperti dalam Al-An’am 32 dan 70, Al-Ankabut 64, Muhammad 36, Ad Dhuha 4. Selain itu Al-Qur’an juga mendeskripsikan sifat-sifat orang wara’ dan taqwa Al-Ahzab 35, ayat yang menjelaskan posisi mulia bagi yang melaksanakan shalat tahajjud Al-Isra’ 79 dan lain sebagainya. Ajaran-ajaran yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas merupakan esensi seorang muslim dalam pengamalan tasawuf sebagaimana yang tersebut belum dapat disebut sebagai seorang muslim sejati. Dengan begitu, maka dapat disimpulkan bahwa kata tasawuf secara tekstual tidak termaktub dalam Al-Qur’an, namun didalamnya sarat dengan tuntunan dan ajaran-ajaran moral yang memberi bimbingan yang mengarahkan tujuan hidup manusia. Dalam konteks itu, sudah barang tentu ilmu tasawuf memiliki dasar-dasar normatif yang jelas dalam Al-Qur’an.
- ጏсвοстуфу эфαруск էпсθτθр
- Чንнабիнт сխςխл խдефև
The conclusion of this thesis is to create integrity and honesty for modern humans, it can be through a means of understanding that is to know God Almighty and always feel His presence. The achievement stage of makri-fat which is the existence of Allah SWT, does not occur suddenly without going through a long and winding process, because the meaning of Allah SWT is only possible with an effort that is truly serious in claiming it. According to Hamka, the light of Divine guidance bounces into the light of the heart which has escaped temptation. In addition to such piety, there is wasila, namely the ways and ways to get closer to God, namely to increase the acts of worship, to do good, to uphold high mind, to be compassionate towards fellow human beings. Increasing a lot of good deeds, it will get closer to the pleasure of God. Wasilah is the effort of each person’s charity with his own business Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201857WACANA UTAMAMAKRIFAT DALAM AL-QUR’ANStudy atas Tafsir Al-AzharNurbaety MustaheleAlumni Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir Program Pascasarjana Intitut PTIQ JakartaAbstract e conclusion of this thesis is to create integrity and honesty for modern humans, it can be through a means of understanding that is to know God Almighty and always feel His presence. e achievement stage of makri-fat which is the existence of Allah SWT, does not occur suddenly without going through a long and winding process, because the meaning of Allah SWT is only possible with an eort that is truly serious in claiming it. According to Hamka, the light of Divine guidance bounces into the light of the heart which has escaped temptation. In addition to such piety, there is wasila, namely the ways and ways to get closer to God, namely to increase the acts of worship, to do good, to uphold high mind, to be compassionate towards fellow human beings. Increasing a lot of good deeds, it will get closer to the pleasure of God. Wasilah is the eort of each person’s charity with his own Al-Qur’an, Tafsir al-Azhar, PendahuluanAl-Qur’an merupakan mukjizat yang diturunkan oleh Allah SWT kepa-da Nabi Muhammad saw untuk digunakan sebagai petunjuk dalam kehidupan dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang, ser-ta membimbing mereka kejalan yang lurus hingga akhir Sebagai petun-juk dari Allah SWT tentulah isi al-Qur’an tidak akan menyimpang dari Sunatul-lah hukum alam sebab alam merupakan hasil perbuatan Allah sedangkan Al-Qur’an adalah merupakan hasil rman Allah SWT. Karena Allah SWT bersifat 1 Mudakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor Pustaka Lintera Antar Nusa, cet. 10, 2007, hal. 1 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201858Maha segala-galanya, maka tidaklah mungkin rman Allah SWT tidak sejalan dengan perbuatan-Nya sunnatullah.Manusia diciptakan oleh Allah satu sama lain diberi kele-bihan dan kekurangan, yang semuanya merupakan cobaan satu sama lainnya di muka bumi. Islam datang untuk mengatur semua urusan manusia, membentuk pribadi penganutnya, membimbing para pemeluknya bagaimana mendekat diri kepada Allah yang dihadapi oleh umat Islam di era modern ini adalah masalah ketakwaan kepada Allah swt yang belum mereka pahami secara men-dalam, karena mereka tidak memakai akalnya. Karena akallah yang dapat men-bedakan antara baik dan buruk, akal yang dapat mengajak-ajak segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal saleh, dan diartikan juga dengan takut kepada Allah swt yang berkembang dewasa ini sudah tidak ada lagi. Seperti orang yang diberikan amanah tidak takut atau malu, yang mana mereka korupsi3 dan tidak menggunakan akal sehatnya, yang mereka kir bagaimana cara untuk mendapatkan apa yang menjadi kehendak mereka supaya bahagia. Ketaatan mereka kepada Allah sudah tidak ada, apakah mengambil hak orang lain itu dosa atau tidak, itu sudah tidak terpikirkan akal menurut Al-Qur’an dan Hadits, rman Allah pada surat al-Maidah ayat 16, menegaskan, “Dia akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dengan izin-Nya”.Kegelapan ialah pendirian atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan juga cahaya ialah apabila akal telah terpimpin menuju kebenaran sehingga itu sendiri ada-lah itu dapat tercapai dengan izin saw bersabda, Wahai manusia, carilah pengetahuan dari Tu-hanmu dan saling berwasiatalah kalian dengan akal. Dengan ilmu, niscaya ka-lian akan mengetahui apa yang diperintahkan kepadamu dan apa yang dilarang bagimu. Ketahuilah bahwa yang disebut orang berakal adalah orang yang tun-duk-patuh kepada Allah walaupun wajahnya buruk, tubuh pendek, pangkatnya rendah dan bentuknya tak bodoh adalah tidak tunduk kepada 2 Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 1, Depok Gema Insani, 2015, hal. 983 Korupsi, Penjelasan pasal 1 UU Tahun 1971, menyatakan bahwa perbuatan korupsi merupakan perbuatan”yang mempergunakan kekuasaan atau pengaruh yang melekat pada seorang pegawai negeri atau kedudukan istimewa yang dipunyai seseorang di dalam jabatan umum yang secara tidak patut atau menguntungkan diri sendiri maupun orang yang menyuap” UU No. 3 Tahun 1971 tentang “Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”. Soewatojo, Juniadi, Korupsi, Jakarta Restu Agung 1995, Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 2, Depok Gema Insani, 2015, hal. 644 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201859Allah meskipun rupanya cantik, tubuhnya tinggi, penampilannya menarik dan bicaranya fasih, Dia yang tidak patuh kepada Allah tidak berakal dan cerdas da-ripada kera atau kalian begaul dengan mereka yang tertipu oleh penghormatan penduduk saw bersabda”Para Malaikat bersungguh-sungguh dan tekun dalam taat kepada Allah dengan akal mereka. Dan orang beriman di antara Bani Adam bersungguh-sungguh dan tekuan sesuai dengan kadar akalnya. Orang yang paing taat kepada Allah adalah orang yang paling sempurna Al-Qur’an tentang makrifat, rman Allah pada ayat 53 surat Yusuf, yang artinya” Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada yang jelek”Hamka menafsirkan ayat tersebut, dikatakan bahwa nafsu manusialah yang selalu mendorongnya hingga kadang-kadang tergelincir dalam meniti hi-dup,”Kecuali orang yang dikasihani oleh Allah”.Hanya orang-orang yang dikasi-hani Allah, yang diberi petunjuk dan hidayah, orang semacam itulah yang terle-pas dari rangsangan hawa inilah merupakan rasa takut yang harus membentengi diri kita agar tidak terjatuh ke lobang yang penuh duri, serta mengkokohkan kita agar tidak terseret hawa makrifat dalam Al-Qur’an, yang mana bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah swt, Sehinnga ia dapat melihat dengan mata ini telah ditegaskan pada surat Adz-Dzariyat ayat Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan supaya mereka beribadah dalam memberikan penafsiran pada ayat di atas, di sinilah Allah menjuruskan hidup kita, memberi kita pengarahan. Allah menciptakanjin dan manusia tidak untuk yang lain, hanya untuk satu macam tugas saja, yaitu men-gabdi, beribadah. Beribadah, yaitu mengakui bahwa kita ini hamba-Nya, tunduk kepada Imam Al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama, Bandung Pener-bit Marja, 2016, hal. 526 Hamka, Falsafah Hidup, Singapura Pustaka Nasional PTE LTD, 1995, hal. 557 Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 4, Depok Gema Insani, 2015, hal. 6998 Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 8, Depok Gema Insani, 2015, hal. 500 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201860Ibadah itu diawali dengan iman, berarti berkeyakinan penuh bahwa Al-lah segala sesuatu sekaligus pula yang berhak di-sembah dan di manusia diciptakan untuk mengenal tidak men-genal Allah, maka bagaimana hendak menyembah-Nya, memujinya dan mohon permasalahan tersebut diatas, penulis akan mengangkat ju-dul tesis MAKRIFAT DALAM AL-QUR’AN STUDY TAFSIR AL-AZHARB. Diskursus Makrifat Dalam Islam1. Pengertian MakrifatArti makrifat dalam kamus bahasa Indonesia Adalah tingkat penyera-han diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai ke-tingkat keyakinan yang lebih makrifatullah adalah kemampuan untuk mengenal makrifatullah berasal; dari kata arafa, ya’rifu’, irfatan, berarti me-ngetahui, mengenal,10 atau pengetahuan Orang yang mempunyai makri-fat disebut terminology makrifat berarti mengenal dan mengeta-hui berbagai ilmu secara rinci, atau diartikan juga sebagai pengetahuan atau pe-ngalaman secara langsung atas realita Mutlak sering digunakan untuk menujukan salah satu maqam tingkatan atau hal kondisi psikologis dalam karena itu, dalam wacan sustik, makrifat diartikan seba-gai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari. Dalam tasawuf upaya penghayatan makrifat kepada Allah SWT Makrifatullah menjadi yang sangat pasti tentang al-Khaliq Allah yang diperoleh dari hati adalah hadirnya al-Haq sementara kalbunya selalu berhubungan erat dengan istilah ini dirumuskan denisinya oleh beberapa Ulama Ta-sawuf, antara lain9 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka, 2001, hal 70310 Ahmad Warsono Munawir, Kamus al-Munawir, Surabaya Pustaka Progresif, 2002, ha. 91911 Totok Junarto dan Samsul Munir, Kamus Ilmu Tasawuf, Jakarta Amzah, 2005, ha. 13912 Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta Pustaka Panji Mas, 1993, ha. 10313 Syihabudin Umar ibn Muhammad Suhrawardi, Awar if , Sebuah Buku Daras Klasik Ta-sawuf, Terj. Iman Nugrahani Ismail, Bandung Pustaka Hidayah, 1998, hal. 105 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201861a. Imam Al-Ghazali, mengatakan makrifatullah adalah orang-orang yang te-lah mencapai derajat ruhani yang sudah sangat tinggi seringkali kata-ka-tanya berada di luar batas akal dan logika manusia, tidak dapat dipahamioleh akal kebanyakan orang. Boleh jadi ia akan disebut “gila’ bahkan “kufur”oleh orang awam. Seorang yang sudah mencapai makrifatullah yaitu telahmemperoleh pengetahuan ilahiah, adalah melihat wajah-Nya, dan bertemudengan-Nya. Maka tatkala ia telah berhasil mencapai tingkat maqam sepertiini, maka ia tidak akan merasakan panas api yang membakar jika dilempar-kan ke dalam api yang menyala. Bagaimana mungkin seorang cinta duniapercaya dengan hal ini yang demikian jika ia tenggelam dan sibuk dengankenikmatan dan kelezatan Abubakar Aceh menjelaskan arti makrifat itu ialah pengetahuan mengeta-hui sesuatu dengan seyakin-yakinnya. Makrifatullah sebenarnya dapat diar-tikan dengan tepat mengenal Allah, kenal kepada-Nya, mengenal zat-Nyadan asma-Nya. Kemudian arti makrifat itu diperluas demikian rupa, sehin-nga perkataan ini merupakan suatu istilah ilmiah dan satu pokok pembica-raan yang ramai dalam kalangan ahli safat, ahli akhlak, ahli ilmu kalamdan tauhid dan ahli su atau tasawuf. Ada yang mengemukakan, bahwamakrifat itu dicapai dengan akal, dan ada pula yang berpendapat bahwatujuan terakhir, ghayat, ialah makrifatullah yaitu mengenal Tuhan dengansebenar-benarnya, karena, kata farabi, lsafat itu ialah mengetahui wujudhaq, dan wujud haq itu ialah wajibul wujud dengan zat-Nya, dan wajibulwujud itu adalah Allah Yang Satu Makrifat menurut Abdul Qadir al-Jailani adalah, tidak dapat dibeli atau di-capai melalui usaha manusia. Makrifat adalah anugrah dari Allah seseorang berada pada tingkat makrifat, maka akan mengenal memperkenalkan rahasia-Nya kepada mereka yang apabila hati me-reka hidup dan sadar melalui zikrullah. Dan hati memiliki bakat, hasrat dankeinginan untuk menerima rahasia Menurut Tgk H. Abdullah Ujong Rimba, makrifat dalam pandangan suadalah mengetahui bagaimana bagaimana hakikat Allah yang su membagi ilmu mereka kepada empat bagian yaitu, ilmu syariat,ilmu thariqat, ilmu hakikat, dan ilmu menurut Rabiahal-Adawiyah, makrifat ilmu rohani, adalah agar engkau palingkan mukamu14 Imam Al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama, Bandung Pener-bit Marja, 2016, hal. 30715 Abu Bakar Aceh, Pengantar sejarah Su dan Tasawuf, Solo CV Ramadhani, 1987, hal. 67-6816 Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rahasia Su, Cet. 1, Yogyakarta Pusaka Su, 2004, hal. 10217 Tgk. Abdullah Ujong Rimba, Ilmu arekat dan Hakikat, Banda Aceh,, 1975, hal. 47-48 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201862dari makhluk agar engkau dapat memusatkan perhatiannu hanya kepada Allah saja, karena makrifat itu adalah mengenal Allah dengan mencapai kedekatan dengan Allah SWT yakni dengan melepas-kan dirinya dari hawa nafsu atau keinginan-keinginan yang bersifat duniawi dan juga melakukan intensitas ubudiyah’ yang semua itu ditujukan kepada Al-lah SWT. dengan penuh perasaan rendah diri dan semata-mata tunduk itu diawali dengan iman, berarti berkeyakinan penuh bahwa Al-lah segala sesuatu sekaligus pula yang berhak di-sembah dan manusia diciptakan untuk mengenal kita tidak mengenal Allah, maka bagaimana kita hendak menyembah-Nya, memujinya dan mohon permasalahan tersebut diatas, penulis akan mengangkat ju-dul tesis MAKRIFAT DALAM AL-QUR’AN STUDY TAFSIR Kerangaka pemikiran1. MakrifatAbu Bakar Aceh menjelaskan arti makrifat itu ialah pengetahuan, me-ngetahui sesuatu dengan sebenarnya dapat diartikan dengan tepat mengenal Allah, kenal kepada-Nya mengenai zat-Nya dan asma-Nya. Kemudian arti makrifat itu diperluas demikian rupa, sehinnga perkataan ini merupakan suatu istilah ilmiayah dan satu pokok pembicaraan yang ramai dalam kalangan ahli lsafat, ahli akhlak, ahli ilmu kalam dan tauhid dan ahli su atau tasauf. Ada yang mengemukakan, bahwa makrifat itu dapat dicapai denga akal, dan ada pula yang berpendapat bahwa tujuan terakhir, ghay-atul ghayat, ialah makrifatullah yaitu mengenal Tuhan dengan sebenar-benar-nya, karena, kata farabi, lsafat itu ialah mengetahui wujud haq, dan wujud hag itu ialah wajibul wujud dengan zat-Nya, dan wajibul wujud itu adalah Allah Yang Satu Rabi’ah al-Adawiyah, Mahabbah cinta, terj. Asfari MS &Otto Sukatni CR, Cet,V, Yog-yakarta Yayasan Bintang Budaya, 1999, hal. 10619 Mir Valiuddin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Penerjemah Pustaka Firdaus, Jakar-ta Pustaka Firdaus, 2002, hal. 2020 Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Su dan Tasawwuf, Solo CV Ramadhani, 1987, hal. 67-68 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201863Menurut Hamka, makrifat pada Allah terbagi atas tiga tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi, tingkatan menengah dan tingkatan paling tingkat makrifat yang paling tinggi itulah yang telah dicapai oleh nabi-nani, orang-orang Siddik yang digelari Waliullah, dan Syuhada yang telah mengorbankan jiwanya dalam mempertahankan agama kesung-guhan orang itu mencari dan mengusahakan, maka terbukalah baginya hijab. Hal ini telah ditegaskan dalam Surat al-Ankabut/29 69Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan se-sungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baikBeliau menjelaskan, lantaran mereka tiada bosan mencari, bertemulah jalan pimpinan dari Nur Ilahi tidak ada syak, ti-dak ada ragu di dalam hatinya di dalam menempuh jalan makrifat yang kedua, atau pertengahan ialah yang dapat dengan jalan Zhan yang ditafsirkan oleh ahli loghat dengan yakin, meskipun belum sampai kepada derajat yakin yang sejati. Hal ini telah ditegaskan dalam Surat Al-Baqarah/246 yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-NyaAhli Sunnah mengartikan, bahwa jalan untuk mencapai makrifat itu ti-dak lain daripada mengetahui dan memengang sungguh-sungguh kepada Al-Qur’an dan Hadist, yang kemudian membawa seseorang kepada makrifatullah yang sebenar-benarnya. Ali bin Abi alib menerangkan, bahwa makrifatullah itu merupakan pangkal segala Su mempunyai pengertian tesendiri yang lebih menda-lam tentang makrifat yang lebih penting baginya ialah hakikat, makrifat hanya merupakan suatu perantaraan. Bagi orang Su tiap jiwa yang bersih akan dapat mencapai makrifatullah. Orang Su menempuh jalan zaug, 21 Hamka, Falsafah Hidup, Singapura Pustaka Nasional, 1995, hal. 65 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201864rasa, dan qalb, hati, sedang usaha luar hanya dapat menyampaikan manusia ke-pada makrifatu zauq, makrifat rasa dan TasawufArti tasauf dan asal katanya menjadi pertikaian ahli-ahli logat. Seten-gahnya berkata bahwa perkataan itu diambil dari perkataan “shifa “, artinya suci kilat setengahnya dari perkataan” shuf ” artinya bulu bina-tang, sebab orang orang memasuki tasauf itu memakai baju dari bulu binatang, karena benci mereka kepada pakaian yang indah-indah, pakaian” dunia” kata setengahnya diambil dari kaum “shuf-fa”, ialah segolongan sahabat-saha-bat Nabi. Kata setengahnya pula dari perkataan “Shufanah”, ialah sebangsa kayu mersi tumbuh di padang pasir Arab. Tetapi setengah ahli bahasa Yunani lama yang telah di-Arabkan. Aslnya”theosoe’ artinya “ Ilmu ke-Tuhanan”, kemudia di Arabkan dan ucapakan dengan lidah orang Arab sehinnga menjadi “ tasauf”.23Argumen Hamka tentang tasauf adalah salah satu safat Islam, yang maksudnya bermula ialah hendak zuhud dari pada dunia yang fana. Tetapi lan-taran banyaknya bercampur-gaul dengan negeri dan bangsa lain, banyak sedi-kitnya masuk jugalah pengajian agama dari bangsa lain itu kedalamnya. Karena tasauf bukanlah agama, melaikan suatu ikhtiar yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula tidak sadar, telah tergelincir dari agama, atau terasa enaknya pengajaran agama lain dan terikut dengan tidak adalah ilmu yang identik dengan persoalan alam hakekat, gaib, mistik, metasik atau alam suprarasional. Ini bukan merupakan asumsi di luar kontek Islam tetapi belandaskan Al-Qur’an pada surat al-Baqarah/223 Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sha-lat, dan menaahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka22 Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Su dan Tasawwuf, Solo CV Ramadhani, 1987, hal. 6923 Hamka, Tasauf Moderen, Medan Yayasan Nurul Islam, 1939, hal. 17 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 2018653. HamkaHamka merupakan nama singkatan dari Haji Abdul Malik Karim. Nama ini nama sesudah beliau menenunaikan haji pada tahun 1927 dan mendapat tambahan Haji. Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Tanah Sirah, dalam Nagari Sungai Batang, di tepi danau Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februa-ri 1908 14 Muharram. Ayahnya ialah Ulama Islam terkenal, yaitu Haji Rasul pembawa faham-faham Pembaruan Islam di ibunya bernama Shayah binti Bagindo Nan beliau berusia 7 tahun, oleh ayahnya dimasukkan sekolah desa dan malamnya belajar mengaji Qur’an dengan ayahnya sendiri hingga khatam. Pada tahun 1916 belajar disekolah Diniyah Putra dan pada tahu 1918 beliau be-lajar juga di awalib School. Pagi hari Sekolah Desa, sore belajar di Sekolah Diniyah, dan malam harinya berada di surau bersama-sama meru-pakan aktitas harian seorang Hamka di masa kecilnya dan ini juga merupakan keinginan ayahnya agar kelak anaknya menjadi ulma seperti tahun 1958 ke Lahore untuk menghadiri Konferensi Islam, dan menghadiri undangan Universitas Al-Azhar di Kairo untuk memberikan cera-mah tentang, “Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia”. Ceramah tersebut menghasilkan gelar Doktor Honorius Causa bagi tahun 1974 beliau juga mendapat gelar “DR” dari Malaysia dalam Kesusteraan di tahun 1962 Hamka mulai menfsirkan Al-Qur’an dengan judul “Tafsir Al-Azhar”.Dan tafsir ini sebagian besar diselasikan selama di dalam taha-nan dua tahun tujuh bulan. Dalam sumber menafsirkan , tafsir al-azhar, beliau mengunakan tas bi al-ra’y tafsir melalui pemikiran ijtihat. Kemudian mengi-nakan metode Interprestasi Hamka Tentang ayat-ayat Makrifatullah1. Corak Tafsir HamkaTiap-tiap tafsir Al-Qur’an memberikan corak haluan dari pribadi pe-nafsirnya, demikian Hamka mengawali dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka memelihara sebaik-baiknya hubungan antara naqal dengan akal, antara 24 Hamka, Tasauf Moderen, cet ke XIV, Jakarta Yayasan Nurul Islam, 1978, hal. 625 M. Yuman Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, cet. Ke II, Jakarta Penama-dani, 2003, hal. 4026 Hamka, Tasauf Moderen, cet ke XIV, Jakarta Yayasan Nurul Islam, 1978, hal. 827 Mafri Amir dan Lilik Umni Kutsum, Literatur Tafsir Indonesia, Jakarta Lembaga Peneli-tian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011, hal. 169 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201866riwayah dengan dalam mengutip atau menukil pendapat, tidak semata-mata pendapat orang yang terdahulu, tetapi mempergunakan juga tin-jauan dan pengalaman pribadi. Menurut Hamka, suatu tafsir yang hanya menu-ruti riwayat atau naqal dari orang yang terdahulu berarti hanya suatu textbook thinking belaka. Sebaliknya, kalau hanya memperturutkan akal sendiri, besar bahayanya akan terpesona keluar dari garis tertentu yang digariskan agama, se-hingga dengan tidak disadari bisa jadi menjauh dari maksud Tafsir Al-Azhar menggunakan corak Adabi Ijtima’i sebagai pende-katan yang juga menggunakan metode pada Tafsir Al-Azhar, pada penulisannya tidak memakai satu paham madzhab, melaikan mencoba sedaya upaya mendekati maksud ayat, me-nguraikan makna dari lafaz bahasa Arab dalam bahasa Indonesia dan memberi kesempatan orang buat berkir. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan ayat bercorak sastra budaya kemasyarakatan adabi ijtimali menggunakan contoh-contoh yang ada ditengah masyarakat, baik masyarakat kelas atas, rakyat biasa, maupun seca-ra indiviidu, semuanya tergambar dalam Hamka yang bercirikan khas ke Indonesiaan, sebagai contoh pada surat Abasa ayat 31-32 “dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu” QS. ’Abasa, ayat 31-32.Hamka menafsirkan ayat di atas dengan “Berpuluh macam buah-bua-han segar yang dapat dimakan oleh manusia, sejak dari delima, anggur, apel, berjenis pisang, berjenis mangga, dan berbagai buah-buahan yang tumbuh di daerah beriklim panas sebagai papaya, nenas, rambutan, durian, duku, langsat, buah sawo, dan lain-lain, dan berbagai macam rumput-rumput pula untuk ma-kanan binatang ternak yang dipelihara oleh manusia tadi”29Selanjutnya, Hamka juga menyajikan ayat di awal pembahasan secara membentuk sebuah kelompok ayat yang dianggap memiliki kese-28 Adabi adalah suatu corak tafsir yang menafsirkan ayat-ayat al-Quran yang me-ngungkapkan dari segi balaghah dan kemijizatannya, menjelaskan makna-makna dan susunan yang dituju oleh al-Qur’an mengungkapkanhukum-hukum alam dan tatanan-tatanan masyarakat yang dikandung Agil Husain al-Munawwar, I’jaz al-Qur’an dan Metodologi Tafsir, Sema-rang Dina Utama, 1994, cet. Ke-1, hal. 3729 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 9, hal. 503 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201867suaian tema untuk memudahkan penafsiran sekaligus memahami hal ini memang sesuai dengan tujuan Hamka menyusun Tafsir Al-Azhar yang ditujukan bagi masyarakat Indonesia agar lebih mudah dipaha-mi. Dalam tafsir ini, Hamka juga menjauhkan diri dari berlarut-larutnya dalam uraian mengenai pengertian kata, selain, hal itu dianggap tidak terlalu cocok untuk masyarakat Indonesia yang memang banyak yang tidak memahami ba-hasa Arab, Hamka menilai pengertian tersebut telah tercangkup dalam terje-mahannya. Walaupun demikian bukan berarti Hamka sama sekali tidak pernah menjelaskan pengertian sebuah kata dalam al-Qur’an. Sesekali penafsiran atas sebuah kata akan disajikan dalam Argumentasi Hamka tentang ayat-ayata. Ayat-ayat Makrifat antara lain;Firman Allah Surah Az-Zumar ayat 9 ……“Katakanlah “Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan de-ngan orang-orang yang tidak berpengetahuan?”Yang akan ingat hanya semata-mata orang-orang yang mempunyai akal budi.”QS. Az-Zumar, ayat 9Argumen Hamka tentang ayat tersebut menanyakan pertanyaan untuk menguatkan hujjah kebenaran. Pokok dari semua pengetahuan ialah mengenal Allah, Tidak kenal kepada Allah sama artinya dengan bodoh. Karena kalau pun ada pengetahuan, padahal Allah yang bersifat Mahatahu, bahkan Allah itupun benama Ilmun pengetahuan, samalah dengan dia tidak tahuakan ke mana diarahkannya ilmu pengetahuan yang telah didapatnya.Ali bin Abi alhah berkata menuturkan dai Ibnu Abbas ra berkait-an dengan rma-Nya, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara ham-ba-hamba-Nya, hanyalah ulama.“Ia berkata, “Yaitu mereka mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”Juga dari Ibnu Abbas ra.,ia berkata.”Syarat bagi seseorang untuk dikata-kan alim tentang Allah Yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba-Nya, ada-lah 1. Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, 2. Menghalalkan apa yang Dia halalkan, 3. Mengharamkan apa yang Dia haramkan, 4. Menjaga dan 30 Mafri Amir dan Lilik Ummi Kultsum, Literatur Tafsir Indonesia, Jakarta Lembaga Pene-litian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011, hal. 171 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201868memelihara tuntunan atau wasiat-Nya, dan 5. Meyakini bahwa Dia akan men-jumpainyadan menghisab amal bin Jubair berkata, “ Rasa takutlah yang menghalangi antara dirimu dengan perbuatan maksiat kepada al-Bashri berkata, Seseorang yang alim adalah orang yang ta-kut kepada Allah Yang Maha Rahman meskipun dia tidak me-nyukai apa yang disukai oleh Allah, dan menahan diri dari apa yang dimurkai oleh-Nya, Kemudian al-Hasan al-Bashir membacakan ayat yang artinya“Sesung-guhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.Firman Allah SuratAdz-Dzariyat, ayat 20-21 “Dan di dalam bumi itu, terdapat tanda-tanda bagi orang yang yakin. Dan di dalam dirimu sendiri. apakah tidak kamu pandang?.” QS. Adz-Dzariy-at, ayat 20-21Argumen Hamka mengenai ayat 20, Selalu kita dapati ayat 20 ini da-lam Al-Qur’an. Dengan mata memandang kealam sekeliling kita, terutama ke seluruh bumi tempat kita berdiamini, asal hati ada mempunyai rasa yakin akan terdapat di mana-mana bahwa Allah itu ada. Bumi penuh bukti-bukti yang men-cengang dan bumi mengandung logam-logam yang ma-hal, sejak dari emas dan perak buat perhiasan, tembaga buat alat penguncian, besi buat alat-alat itu di dunia terdapat pohon yang , kayu-kayuan itu membangun rumah rumah-rumah tempat tinggal, buat kapal-kapal buat menyeberangkan manusia menempuh jarak lautan yang jauh. Dan embusan angin, manusia diberi ilmu untuk memasang layar ayat 20 dan 21 tidak ada hubunganya, namun ini sesuai dengan ja-lan pikiran lsafat. Yakni,sesudah manusia menambah keyakinan karena mere-nungkan isi bumi, namun setelah melihat alam keliling bumi, manusia kembali melihat merenungkan siapakah dirinya sendiri, dari mana asalku, akan kemana pergiku. Diri berharga karena usaha dan jasa ketika hidup. - Yang menentukan nilai hidup ialah amal dan jasa, waktu masih hidup dahulu. Oleh sebab itu ayat 20 dan 21 ini menyuruh memikirkan dan merenungkan bumi yang ada dise-keliling yang penuh itu, pikirkanlah diri sendiri, siapa kita dan siapa aku. Apabila kita telah mengatur berkir cara demikian, niscaya akan Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201869sampailah kita kepada suatu kesimpulan, “Segala sesuatu menjadi bukti bahwa Dia adala Esa.”31Inilah merupaka suatu bukti bahwa Allah itu manusia harus meyakinkan bahwa Allah itu hidup di dunia ini bukanlah kosong melompong tidak ada tujuan, melaikan ada Maha Pengatur yang di dalam lin-dungan dan kita kembali kealam akhirat dengan membawa amal dan jasa waktu masih Allah “Cahaya di atas cahaya berlapis-lapis, Allah membimbing kepada ca-haya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpa-maan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. An-Nur, ayat 35.M. Quraish Shihab menarkan ayat tersebut; Cahaya di atas cahaya yak-ni berlapis perumpamaan petunjuk Allah yang terbentang di alam raya ini dan yang diturunkannya melalui membimbing kepa-da cahaya-Nya siapa yan Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-pe-rumpamaan yang bersifat indriawi dan memaparkannya bagi manusia untuk memudahkan mereka memahami hal-hal yang abstrak dan Allah Maha Men-getahui segala sesuatu termasuk mereka yang mempersiapkan diri untuk mene-rima menjelaskan ayat tersebut; Nur atas di atas petunjuk dari Ilahi, memantul ke dalam cahaya hati yang telah lepas dari hebatnya Nur itu tidaklah aka nada artinya, kalau intan jiwa belum digosok terlebih dahulu hingga sanggup menerima cahaya. Pernahkah Anda bertanya kepada penggosok intan pula. Karena intan lebih keras daripada batu dan lebih keras daipada Allah yang telah didapat oleh hati yang ber-Nur, itulah dia Islam.“Allah memimpin kepada Nur-Nya itu barang siapa yang akhir ayat Allah member ingat lagi sekali lagi “Dan Allah mengadakan berbagai perumpamaan untuk Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.”Firman Allah31 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 8, hal. 48532 Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta Lentera Hati, 2002, jilid 8, hal. 549 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201870 “Tidak ada jawaban lain bagi orang yang beriman, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya dilakukan hukum di antara mereka, hanya “Kami dengarkan ajaran itu dan kami patuhi.”Itulah orang-orang yang menang.”QS. An-Nur , ayat 51Hamka menafsirkan ayat tesebutAdapun orang yang beriman kepada Allah dan Rasul, apabila sekali saja datang kepadanya ajakan supaya segera di-jalankan sepanjang hukum Allah dan Rasul, maka dengan sikap yang tegak dan tangkas mereka menjawab,”Kami dengar perintah itu dan kami patuhi.”Itulah orang yang menang!, mengapa mereka menang? Mereka telah dapat memba-ngun keyakinan hidup, mereka telah ada pegangan yaitu Allah Tiada lain, tiada dua, tiada tiga . Dan Allah pula yang memerintahkan kepada supaya di dalam taat setiap kepada Illahi itu hendaklah di dalam tat setiap kepada Ilahi itu hen-daklah turuti wahyu Allah SWT yang disampaikan oleh Rasul telah menang menghadapi hawa nafsu dan kehendak sendiri, mereka telah menang menghadapi segala halangan dan rintangan dalam me-langkah menuju hanya satu, yaitu ridha itu jiwa mereka tidak ber-pecah, tidak berlawanan di antara mulut dengan hati. Mereka telah mempunyai satu pandangan saja dan satu keuntungan saja, yaitu keuntungan Ayat-ayat Iman dan takwaFirman Allah; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah ja-lan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, mudah-mudahan kamu mendapat kejayaan” QS. Al-Maidah, ayat 35Menurut Hamka ayat tersebut Hendaklah selalu melatih diri agar takwa kepada Allah. Takwa mengadung akan arti takut dan memelihara. Di dalamnya terkandung Khauf dan Raja’. Khauf berarti takut, takut akan adzab-Nya dan Raja’ mengharap akan rahmat-Nya. Disamping takwa yang demikian, hendaklah disusun wasila, yaitu jalan-jalan dan cara-cara supaya kian lama kian mendekati 33 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 6, hal. 318 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun dengan memperbanyak amal ibadah, berbuat kebajikan, menegak-kan budi yang tinggi, belas kasihan kepada sesama banyak amal kebajikan, bertambah banyak amal kebajikan, bertambah sampailah ke tempat yang diridhai oleh wasilah itu jalan itu, tidak lain, ialah usa-ha dari masing-masing orang, amal dan usaha ayat, bersungguh-sungguh, bekerja keras seperti arti dari Allah itu adalah lurus, menuju tujuan yang orang di-serukan supaya masuk ke dalam jalan itu menuju tujuan yang tertentu itu, yai-tu semua pekerjaan hendaklah dikerjakan jangan dengan kepalang tanggung dengan semangat berjuang dan bekerja dengan semangat berjuang dan bekerja keras, dengan niat menuntut keridhaan Allah dan melapangkan dari suatu jihad tidaklah memberikan harapan bagi kita, yaitu “mudah-mudahan kamu mendapat kejayaan.”Kejayaan dunia dan Shihab mengenai ayat tersebut Ayat ini lalu ber-bicara tentang telah datangnya nur dan kitab suci. Ayat ini menjelaskan fungsi kehadiran keduanya dan terhadap siapa keduanya dapat berfungsi yakni dengan nur dan kitab suci itu, Allah menujuki orang-orang yang diketahui-Nya bersungguh-sungguh berusaha ingin mengikuti jalan menuju keridhaan-Nya. Allah menunjuki mereka kesalah satu atau bermacam-macam atau satu demi satu jalan-jalan keselamatan yang membebaskan mereka dari se-gala macam kekeruhan jiwa dan bencana, baik di dunia maupun di akhirat, dan Allah mengeluarkan mereka yakni orang-orang yang memiliki kesungguhan itu dari aneka kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya, dan menujuki mereka kejalan yang lurus, jalan lebar dan mudah guna meraih kebahagiaan. Ayat di atas menggunakan bentuk tunggal untuk kata nur dan ben-tuk jamak untuk kata zhulumat / aneka bentuk tunggal itu menunujkan bahwa cahaya hanya dengan berane-ka ragam, sumber beraneka ragam Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut Allah Ta’alah berrman memerintahkan para hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya. Kata takwa jika diiringkan dengan ketaatan kepada-Nya, maka yang dimaksud ilah menjahui keharaman dan meninggalkan larangan, Kemudian rman Allah lagi, “Dan ca-rilah wasilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.3634 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid ke-2, Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta Lentera Hati, 2002, jilid 3, hal. 6836 Ibnu Katsir, terj. Ahmad Saikhu, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, jild 3, Jakarta Pustaka Ibnu Kastsir, 2000, hal. 112 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201872Sufyan ats-Tsauri mengatakan Ayahku menceriterakan dari alhah, dari Atha’, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan wasilah ialah qurbah pendekatan diri kepada Allah.37Qatadah mengatakan bahwa maksudnya mendekatkan diri bertaqar-rub-lah kepada Allah dengan menaati-Nya dan mengamalkan segala yang Allah surat Al-An’aam ayat, 164 Katakanlah Apakah yang selain Allah akan aku harapkan menjadi Tu-han? Padahal Dialah Tuhan dari tiap-tiap sesuatu? Dan tidaklah meng-usahakan tiap-tiap diri melainkan untuk dirinyalah. Dn tidaklah akan menanggung seorang penanggung akan tanggungan orang lain. Kemu-diaan kepada Tuhan kamulah tempat kamu kembali. Maka Dialah yang akan memberitakan kepada kamu tentang apa yag telah pernah kamu perselisihkan”QS. Al-An’aam, ayat 164Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat Ayat ini berisikan perintah agar ber-tawakkal dengan ikhlas, sebagaimana ayat sebelumnya berisikan perintah agar ikhlas beribadah karena Allah semata tidak ada sekutu menafsirkan ayat 164 surah al-An’aam, pada pangkal ayat Ka-takanlah. Agar manusia-manusia yang menentangmu itu tidak ragu-ragu dan tidak meraba-raba lagi bagaimana pendirianmu yang sebenarnya.—Sebagai aki-bat dari pernyataan keyakinan hidup itu, bahwa ibadah shalat dan ibadah yang lain, bahkan hidup dan mati semuanya tertuju pada satu jurusan , yaitu Allah yang tidak bersekutu dengan yang lain. Allah yang Mahakuasa atas seluruh alam, dan sebagai akibat pula dari lanjutan kepercayaan bahwa tidak suatu pun yang diharap-harapkan hendak dijadikan Tuhan buat disembah, sebab yang mencipta seluruh alam ini hanya ada tempat takut melaikan Allah—segala amal yang diamalkan, usaha yang diusahakan, melainkan Allah. Dosaku tidak orang lain yang akan menanggung, sebaliknya dosa orang lain pun tidak ada yang akan menanggung. Masing-masing bertanggung jawab kepada Ath-abari X/29138 Ath-abari X/29139 Ibnu Katsir, terj. Ahmad Saikhu, Shahih Tafsir Ibnu Katsir,jilid, 3, Jakarta Pustaka Ibnu Kastsir, 2000, hal. 507. Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201873Ujung ayat, Artinya akan kembalikah kamu kepada-Nya saja di hari akhirat itu, sesudah melalui hidup dunia kepada-Nya saja. Tidak pada yang lain. Waktu itulah diberitahukan kepadamu dengan jelas bukti kesa-lahanmu ketika hidup di dunia yang telah menjadi perselisihanmu ketika hidup di dunia yang telah menjadi perselisihkarena banyak para ulama tersebut diatas, bahwa perintah tawakkal dan be-ribadah dikerjakan dengan ikhlas, karena Allah semata, dan segala dosa yang dibuat individu ditanggung masing-masing di akhirat kelak. Jadi hanya kepada Allah saja yang kalian sembah tidak ada yang lain kecuali Allah Allah “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka ke-curigaan, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudara-nya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”QS. Al-Hujurat, ayat 12Pengertian Ibnu Katsir pada surat Al-Hujurat, ayat 12, Allah swt berr-man seraya melarang para hambanya berpersangka buruk yaitu dengan mencu-rigai keluarga, kerabat serta orang lain dengan tuduhan yang buruk yang bukan pada tempatnya. Karena sesungguhnya sebagian dari perbuatan tersebut meru-pakan hal murni karena itu, hendaklah hal tersebut dijauhi secara keseluruhan sebagai tindakan Shihab tetang ayat 12 surat Al- Hujurat Karena ayat diatas menyatakan Hai orang-orang yang beriman jauhilah dengan upaya sungguh-sungguh banyakdari dugaan, yakni prasangka buruk terhadap manu-sia yang tidak memiliki indikator memadai, sesungguhnya sebagian dugaan, yak-ni yang tidak memilki indicator itu, adalah Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid ke-3, hal. 364-36541 Ibnu Katsir,terj. Abu Ihsan al-Atsari dkk, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta Pustaka Ibnu Katsir, 2000,jilid 8, hal. 47742 Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta Lentera Hati, 2002, jilid 12, hal. 609 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201874Selanjutnya, karena tidak jarang prasangka buruk mengundang upa-ya mencari tahu, makna ayat di atas melanjutkan bahwa Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain yang justru ditutupi oleh pelakunya serta ja-ngan lupa melanglangkah lebih luas , yakni sebagian kamu menggunjing, yakni membicarakan aib sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan danging saudara yang sudah mati. Maka, tentulah jika itu disodorkan kepada kamu, kamu telah merasa jijik kepadaya dan akan menghindari mema-kan daging saudara sendiri itu. Karena itu, hindarilah pergunjingan karena ia sama dengan memakan dengan memakan daging saudara yang telah meninggal dunia dan bertakwalah kepada Allah, yakni hindari siksa-Nya dan menjahui la-rangan-Nya serta bertaubatlah atas aneka kesalahan, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat Lagi Maha Hamka tentang ayat 12 surat Al- Hujurat Prasangka ialah tuduhan yang bukan-bukan prasangka yang tidak beralasan, hanya semata-mata rahmat yang tidak pada tempatnya saja. “Karena sesungguhnya sebagian daripada pra-sangka itu adalah dosa.”Prasangka adalah dosa karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang berbaik. Bagaimanalah perasaan yang tidak mencuri lalu disangka mencuri. Ra-sullah sangat mencegah perbuatan prasangka yang sangat buruk itu dengan sab-danya” Sekali-kali janganlah kamu berburuk sangka karena sesungguhnya buruk sangka adalah perkataan yang paling bohong dan janganlah kamu merisik-risik dan janganlah kamu berganding-gandingan dan janganlah kamu bedengki-den-gkian dan janganlah kamu berbenci-bencian dan janganlah kamu bebalik-bela-kang dan jadilah kamu seluruh hamba Allah bersaudara” HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.43Kemudian ujung ayat, “Dan bertakwalah kepada Allah, Sesunguhnya Allah adalah penerima taubat, lagi maha penyayang”, Artinya, Jika selama ini perangai yang buruk ini ada pada dirimu, mulai sekaranglah hentikan dan ber-tobatlah daripada kesalahan yang hina itu disertai dengan penyesalan dan senatiasa membuka pintu kasih sayang-Nya yang ingin menukar perbuatan yang salah dengan perbuatan yang baik, kelakuan yang durjana hina dengan kelakuan yang terpuji sebagai manusia yang Ayat-ayat Tentang IbadahFirman Allah Surat Al- Isra’ ayat 7843 Hamka, Tafsir Al Azhar, hal. 428-42944 Hamka, Tafsir Al-Azhar, hal,430, jilid 8 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201875 “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat subuh. Sesungguhnya bacaan subuh itu di-saksikan oleh malaikat.”QS. Al-Isra’ ayat 78Hamka menafsirkan ayat tersebut Tegasnya dirikanlah shalat lima wak-tu. Dirikanlah shalat sejak tergelincir matahari dari pertengahan siang, yaitu permulaan waktu Zhuhur, dan mata hari itu setelah tergelincir ditengah hari pertengahan siang akan terus condong ke barat sampai dia terbenam. Oleh se-bab itu dalam kata tergelincir matahari termasuklah zhuhur dan ashar; sampai gelap-gulita malam. Dan permulaan malam itu datanglah maghrib. Bertambah matahari terbenam kebalik bumi hilanglah syafaq yang merah—bertambah ter-benam tersorok ke balik belahan bumi, maka masuklah disebut-lah Qur’anul fajri, yang arti harahnya ialah Qur’an di waktu fajar, tetapi tafsir-nya ialah shalat menciptakan manusia hanya untuk satu tugas saja, yaitu mengab-di, beribadah. Beribadah, yaitu mengakui bahwa manusia ini hamba-Nya, tun-duk akan Allah “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan naahkanlah naah yang baik untuk diri-mu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mere-ka itulah orang-orang yang beruntung”QS. At-Taghabun, ayat 16.Hamka menafsirkan ayat 16 surat at-Taghabun Segala amal ibadah yang menghendaki tenaga, kerjakanlah sekadar tenaga yang ada padamu, baik tenaga badan maupun tenaga harta kekayaan. Ketahuilah bahwa perintah agama, ti-daklah ada yang berat sehingga tidak dapat dipikul. Pada waktu Nabi saw. Men-dapat perintah supaya beliau menyampaikan perintah mengerjakan haji kepada umatnya, ada sahabat beliau yang bertanya, “Apakah pada tiap-tiap tahun, ya Rasulullah?”Mula pertanyaan itu seakan-akan tidak didengarnya. Tetapi setelah sampai tiga kali ditanyakan, barulah beliau jelaskan bahwa kalau aku kataka-45 Hamka, Tafsir Al-Azhar , jilid, 5, hal. 319-320 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201876na na’am atau memang, niscaya banyak di antara kalian yang tidak akan dapat mengerjakannya. Oleh sebab itu perintah mengerjakan haji yang wajib hanyalah satu kali yang pertama saja, yang selanjutnya adalah tathawwu’, yaitu dikerjakan dengan sukarela kalau juga amalan yang lain-lain. Shalat yang wajib hanyalah lima waktu sehari semalam itu. Selebihnya adalah tambahan atau nawaal, yang kita dianjurkan mengerjakannya kalau ada kesanggupan shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat nawaail sebelum qabliyah yang wajib atau sesudahnya ba’diyah atau yang Rasulullah “ Apabila aku perintahkan kepadamu suatu perintah olehmu menurut kesanggupan, dan apabila aku larang, hendaklah kamu henti-k a n .” HR. Bukhari dan Muslim.“Dan dengarkanlah!”Baik-baik perintah yang disampaikan oleh Rasul, supaya jangan ada keraguan, supaya jelas kaiyat atau cara mengerjakannya. “Dan taatlah” artinya sesudah didengarkan baik-baik hendaklah dilaksanakan baik-baik pula, dipatuhi apa yang diperintahkan Ra-sul itu. Jangan hanya semata-mata didengar, padahal tidak dikerjakan, jangan di ubah-ubah dari sepanjang yang didengar, jangan di tambah-tambah, karena itu adalah berbuat bid’ah dan jangan pula dikurangi, karena kalau dikurangi amalan itu tidak akan sah di sisi Allah.”Dan belanjakanlah yang baik untuk dirimu.”Arti-nya janganlah segan dan enggan mengeluarkan belanja untuk mempergunakan amalan dan ibadah, untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul menurut Katsir menafsirkan, Artinya keluarkanlah belanja dari rezeki yang dianugerahkan Allah itu untuk kamu sekeluarga, fakir dan miskin dan orang-orang yang amat memerlukan, dan berbuat baiklah ke-pada sesama hamba Allah sebagaimana Allah pun telah berbuat baik kepada kamu, semuanya itu kebaikannya terpulang kepada dirimu sendiri di dunia dan di akhirat. Kalau tidak kamu berbuat begitu, kamu jugalah yang akan celaka di dunia dan akhirat.“Dan barang siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Kikir atau bakhil, atau lokek atau kedekut, semua-nya sama artinya. Yaitu perangai dari orang-orang yang enggan mengeluarkan hartanya, merasa berat bercerai dengan uangnya. Sangat kasihan uang simpa-nannya akan keluar, terutama untuk membantu orang yang kesusahan, atau fa-kir miskin. Karena kikirnya itu sampai hati dia membiarkan orang yang memin-ta pertolongan pulang saja dengan tangan Hamka, Tafsir Al-azhar, jilid 9, hal. 17847 Hamka, Tafsir Al-azhar, jilid 9, hal. 179 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201877Firman Allah Katakanlah»Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu sua-tu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah dengan ikhlas ber-dua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu kirkan tentang Muham-mad tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum menghadapi azab yang keras.” QS. Saba’ ayat, 46Hamka dalam menafsirkan ayat tersebut diatas Puncak dari segala se-ruan dan dakwa, “yaitu bahwa kamu menghadap Allah berdua-dua dan sendi-ri-sendiri.”Dalam ayat ini mengandung anjuran kepada pribadi mereka masing-masing seketika mereka tersisih dari kelompok orang banyak. Di hadapan orang banyak pemimpin-pemimpin Quraisy telah menyebarkan propaganda bahwa Al-Qur’an yang dibawa oleh Muhammad saw. itu adalah usahanya hendak me-rintangi mereka dari menyembah apa yang disembah nenek moyang, kemudian dituduh pula bahwa Al-Qur’an itu hanya dusta yang dikarang-karang saja oleh Muhammad, dan ketiga dituduh bahwa anjuran Muhammad itu hanyalah sihir yang nyata. Di sini Nabi disuruh Allah menganjurkan orang-orang itu supaya berpikir sendiri-sendiri, direnungkan dan ditinjau ke dalam hati seluruh kaum itu tetap percaya kepada Allah Yang menyembah ber-hala hanya sebagai perantara anjuran Nabi ini mereka disuruh ber-dua-dua atau sendiri-sendiri mengahadap langsung kapada Allah. Tinggalkan pengaruh yang lain. Artinya ajaklah seorang teman yang dekat mengadakan per-tukaran pikiran dan persamaan paham.—Niscaya pikiranmu yang jernih dan tidak terpengaruh itu akan dapat mengambil kesimpulan.” Tidaklah ada pada teman kamu itu sakit gila.”Tidaklah mungkin butir kata begitu mendalam akan timbul dari pikiran orang gila. “Dianya lain tidak hanya menjadi Pengancam bagi kamu di hadapan adzab yang sangat.” Tidak!.Kawanmu itu bukan orang Suatu hari naiklah Nabi saw. keatas Bukit Shafa. Lalu beliau berse-ru, “Wahai kaumku, bangunlah dan berkumpullah pagi yang akan aku katakana.” Maka orang-orang pun berkumpul sekelilingnya hendak menden-garkan apa yang hendak dikatakannya. Dan mereka bertanya, “Apa maksudmu memanggil kami?” Lalu Rasulullah berkata, “kalau aku kabarkan kepada kamu 48 Hamka, Tafsir Al-Azhar, jilid 7, Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201878bahwa musuh sedang menyerbu pagi hari atau petang hari, apakah kamu per-caya akan ucapanku.?” Serentak mereka menjawab, “Tentu saja kami percaya.”-Lalu kata beliau”Sekarang aku beritahu kepada kamu semua, bahwa sedang mengancam adzab yang sangat hebat, sanagt seram dan pedih.”Tiba-tiba ber-dirilah pamanya sendiri Abu Lahab menyanggah dengan keras suaranya, “Me-rosotlah engkau! Untuk inikah kami engkau suruh berkumpul. Karena sumpah dan makiannya kepada Nabi itulah turun surah ”Tobbat yadaa Abii Lahabin.” D. KESIMPULANBerdasarkan ulasan yang dikemukakan pada bab-bab diatas, penulis da-pat mengambil kesimpulan bahwa1. Makrifat dalam Al-Qur’an mengenal Allah atau merasakan kehadiran-Nya,mentaati perintahnya, menjahui larangannya, dan selalu ingat kepada Allahserta tunduk disertai rasa mahabbah kecintaan kepada-Nya. Karena ma-nusia hidup di dunia bukan untuk dunia. Dunia hanya persinggahan danmenyiapkan diri untuk mencapai makrifat Allah, sebab akan menempuhsatu alam yang lain yang lebih luas dari alam semesta yang akan dipertan-ngung jawabkan di akherat hati seseorang tergantungkualitas makrifatnya dan kehancuran diri, keluarga, sampai kepada suatubangsa karena ketidak tahuannya tentang makrifat. Untuk mencapai makri-fat itu tidak lain daripada mengetahui dan memegang sungguh-sungguhkepada Al-Qur’an dan Mencapai makrifat dengan tasawuf merupakan kekuatan Islam pada Aqi-dah Islam, yang menimbulkan Akhlak Islam, karena Aqidah yang mem-bawa kemajuan. Tasawuf yang patut diamalkan zaman modern, yang mem-punyai cirria. Bermuatan memahami, menyadari dan menghayati zuhud yang tepatseperti yang di contohkan Rasulullah saw yang cukup sederhana pen-gertiannya, yaitu memegang sikap hidup dimana hati berhasil dikuasaioleh Sikap hidup zuhud meninggalkan hal-hal yang berlebihan, walaupunhalal, menujukkan sikap hemat, hidup sederhana, dan menghindariberlebih-lebihan, kemewahan atau pemilikan harta yang lebih bernilaisebagai promoter status dari pada sebagai harta kekayaan Sikap zuhud yang dilaksanakan berdampak mempertajam kepekaansosial yang tinggi dalam arti mampu menyumbang kegiatan pember- Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201879dayaan umat, seperti bergairah mengeluarkan zakat dan infaq serbagai-rah menerima keuntungan dalam bekerja dan Hamka untuk mencapai makrifat dalam tafsir Al-Azhar adalah; Nur atasNur, Cahaya diatas cahaya. Cahaya petunjuk dari Ilahi , memantul ke da-lam cahaya hati yang telah lepas dari gosokanjiwa. Betapun hebatnya Nurtidaklah ada artinya, kalau intan jiwa belum digosok terlebih dahuluhinggasanggup menerima cahaya. Disamping takwa yang demikian, maka disu-sunlah wasila, yaitu jalan-jalan dan cara-cara supaya kian lama kian men-dekati Allah. Yaitu dengan memperbanyak amal ibadah, berbuat kebajikan,menegakkan budi yang tinggi, belas kasihan sesama manusia. Bertambahbanyak amal kebajikan, maka akan semakin mendekati ridha Allah. Sehing-ga wasilah itu, adalah dari masing-masing amal orang dengan PUSTAKAAbu Bakar Aceh, Pengantar sejarah Su dan Tasawuf, Solo CV Ramadhani, 1987Ahmad Warsono Munawir, Kamus al-Munawir, Surabaya Pustaka Progresif, 2002Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 1, Depok Gema Insani, 2015Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta Pustaka Panji Mas, 1993Hamka, Falsafah Hidup, Singapura Pustaka Nasional PTE LTD, 1995Hamka, Tasauf Moderen, Medan Yayasan Nurul Islam, 1939, hal. 17Ibnu Katsir, terj. Ahmad Saikhu, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, jild 3, Jakarta Pusta-ka Ibnu Kastsir, 2000Imam Al-Ghazali, Ihya’Ulumuddin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama, Ban-dung Penerbit Marja, 2016Mafri Amir dan Lilik Ummi Kultsum, Literatur Tafsir Indonesia, Jakarta Lemba-ga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011, hal. 171Mir Valiuddin, Tasawuf dalam Al-Qur’an, Terj. Tim Penerjemah Pustaka Fir-daus, Jakarta Pustaka FirdausM. Yuman Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, cet. Ke II, JakartaPenamadani, 2003Mudakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Bogor Pustaka Lintera Antar Nusa, cet. 10, 2007Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka, 2001 Mumtäz Vol. 2 No. 1, Tahun 201880Rabi’ah al-Adawiyah, Mahabbah cinta, terj. Asfari MS &Otto Sukatni CR, Cet,V, Yogyakarta Yayasan Bintang Budaya, 1999Soewatojo, Juniadi, Korupsi, Jakarta Restu Agung 1995Syihabudin Umar ibn Muhammad Suhrawardi, Awarif, Sebuah Buku Daras Kla-sik Tasawuf, Terj. Iman Nugrahani Ismail, Bandung Pustaka Hidayah, 1998Said Agil Husain al-Munawwar, I’jaz al-Qur’an dan Metodologi Tafsir, Semarang Dina Utama, 1994Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta Lentera Hati, 2002Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rahasia Su, Cet. 1, Yogyakarta Pusaka Su, 2004Totok Junarto dan Samsul Munir, Kamus Ilmu Tasawuf, Jakarta Amzah, 2005Tgk. Abdullah Ujong Rimba, Ilmu arekat dan Hakikat, Banda Aceh,, 1975 Ath-abari X/291 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this WarsonoAhmad Warsono Munawir, Kamus al-Munawir, Surabaya Pustaka Progresif, 2002HamkaHamka, Tafsir Al-Azhar jilid 1, Depok Gema Insani, 2015Terj Ahmad Ibnu KatsirSaikhuIbnu Katsir, terj. Ahmad Saikhu, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, jild 3, Jakarta Pustaka Ibnu Kastsir, 2000Imam Al-GhazaliImam Al-Ghazali, Ihya'Ulumuddin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama, Bandung Penerbit Marja, 2016Tasawuf dalam Al-Qur' an, Terj. Tim Penerjemah Pustaka FirdausMir ValiuddinMir Valiuddin, Tasawuf dalam Al-Qur' an, Terj. Tim Penerjemah Pustaka Firdaus, Jakarta Pustaka FirdausCorak Pemikiran Kalam Tafsir al-AzharYuman YusufM. Yuman Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, cet. Ke II, Jakarta Penamadani, 2003Ilmu Qur' an, Bogor Pustaka Lintera Antar Nusa, cetA S MudakkirStudi IlmuMudakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur' an, Bogor Pustaka Lintera Antar Nusa, cet. 10, 2007Pusat Bahasa Departemen Pendidikan NasionalPusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta Balai Pustaka, 2001Totok Junarto Dan SamsulMunirTotok Junarto dan Samsul Munir, Kamus Ilmu Tasawuf, Jakarta Amzah, 2005TgkAbdullah Ujong RimbaTgk. Abdullah Ujong Rimba, Ilmu Tharekat dan Hakikat, Banda Aceh,, 1975
MAKALAHTASAWUF. AKHLAQ TERPUJI DAN AKHLAQ TER. CELA. DI SUSUN OLEH. ADINA FAEDA RAHMANI. 1543005. Kelas A. FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU RODLATHUL ATHFAL. Salah satu ayat dalam Al-Quran yang menerangakan tentang taubat yaitu surat At-Taubat ayat 104 yang berbunyi :Oleh NASHIH NASHRULLAHBerceramah merupakan satu dari sekian aktivitas berdakwah yang mulia menyampaikan pesan dan menyebarkan syiar di hadapan ratusan, ribuan, bahkan jutaan umat manusia. Ada misi berharga di sana. Namun, dinamika dunia dakwah pun berkembang. Ini beriringan dengan perkembangan teknologi dan lain sebagainya. Tak sedikit oknum pendakwah pada akhirnya terjebak dalam logika materi. Berdakwah pun sekaligus berbisnis. Seperti memasang tarif tertentu untuk jasa ceramahnya. Bolehkah memasang tarif untuk jalan dakwah? Eks ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia MUI alm Prof Hasanuddin AF pernah mengatakan, dari segi hukum Islam, pada prinsipnya diperbolehkan menerima imbalan jasa atas ceramah atau mengajarkan ilmu agama lainnya, seperti pengajaran Alquran. Akan tetapi, ia menggarisbawahi bahwa imbalan tersebut bukan tujuan utama. Dan, agar tarif tersebut tetap tidak melampaui batas kewajaran. Motif paling mendasar kala berdakwah adalah niat untuk Allah SWT semata. Selain itu, memberlakukan tarif berdakwah justru akan menghilangkan pahala dakwah itu sendiri. “Jika niatnya bisnis dan dibisniskan, itu tidak boleh,” ujarnya. Ia pun mengutip hadis riwayat Umar bin Khattab tentang pentingnya meluruskan niat bahwa segala urusan akan dikembalikan pada sejauh manakah niat dan motif yang bersangkutan. Bila sebatas dunia maka pahala tak ia dapat. Sebab, hanya dunia yang ia peroleh. Ia pun mengimbau para pendakwah agar tidak mematok tarif. Tindakan pemasangan tarif justru berpotensi merusak citra dakwah tersebut. Ia mengusulkan agar sanksi sosial dijatuhkan pada oknum-oknum pematok tarif dakwah. “Jangan diundang lagi,” katanya. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Prof Syamsul Anwar mengingatkan para pendakwah agar tetap ikhlas dan tidak memasang tarif. Meski ia menegaskan tidak ada larangan untuk memasang tarif untuk dakwah, tetapi hendaknya para dai menghindari “komersialisasi” tersebut. Menurut dia, pemasangan tarif kaitannya dengan kebiasaan yang berlaku. Semestinya, iltizam dini atau ketaatan terhadap syariat, dengan tidak mengedepankan tarif, lebih ditekankan oleh yang bersangkutan. Kalaupun hendak memasang tarif, sewajarnya saja. “Masyarakat punya penilaian tersendiri,” katanya. Komersialisasi Ketua Lajnah Bahtshul Masail Nahdlatul Ulama LBM-NU KH Zulfa Mustofa menyatakan, menurut perspektif agama, secara etika, seorang ulama tidak boleh meminta, bahkan memasang tarif. Memang, mayoritas ulama memperbolehkan penerimaan upah dari pengajaran ilmu agama, tetapi tidak dengan cara mematok tarif. “Tidak pantas meminta apa pun alasannya,” ujar alumnus Pesantren Maslakul Huda, Pati, Jawa Tengah, asuhan KH Sahal Mahfuz tersebut. Menurut dia, “komersialisasi” itu tak terlepas dari pengaruh media, terutama televisi. Tingkat rating akan dijadikan alasan untuk meningkatkan “tarif” dakwah seseorang. Padahal, sikap semacam ini bisa mengancam kekekalan pahala. Ia pun teringat nasihat sang guru, KH Sahal Mahfuz, yang berpesan, “Allaim majjanan kama ullimta majjanan” ajarkanlah ilmu secara ikhlas, sebagaimana engkau dididik secara gratis. Tak lupa, ia sampaikan ajakan agar para ulama mengingatkan oknum pendakwah mana pun yang mematok tarif. Fikih klasik Dalam kajian fikih klasik, rujukan persoalan ini bermuara pada topik pengambilan upah atas pengajaran Alquran. Menurut kelompok yang pertama, tidak boleh menerima atau “membisniskan” pengajaran ilmu agama, tak terkecuali Alquran. Opsi ini berlaku di sejumlah mazhab, antara lain Hanbali di salah satu riwayat, Zaidiyyah, dan Ibadhiyyah. Sedangkan, Imamiyyah melihat hukumnya makruh selama ada syarat sejak awal. Pihak ini berdalih bahwa mengajarkan ilmu syariah dan Alquran merupakan bakti yang tak berpamrih, hanya Allah SWT-lah yang akan membalasnya. Kebutuhan akan pelajaran ilmu agama dan Alquran sama pentingnya dengan urgensi mengajarkan shalat. Berbagi ilmu shalat merupakan hal mendasar, tak boleh “diperjualbelikan”. Ini ditegaskan di banyak ayat, seperti surah an-Najm ayat 39, al-Qalam ayat 46, dan Yusuf ayat 104. Pandangan ini diperkuat oleh hadis riwayat Ubay bin Ka’ab. Dalam sabda itu, Rasulullah SAW memperingatkan seorang sahabat yang menerima hadiah atas pengajaran Alquran yang dilakukannya. “Jika engkau ambil maka sejatinya engkau telah mengambil satu kurung api neraka,” titah Rasul. Riwayat Ubadah bin as-Shamit menegaskan larangan senada. Secara jelas, larangan itu dipertegas pula dalam hadis Abdurrahman bin Syibil. “Jangan engkau mencari makan darinya dan jangan pula mencari keuntungan,” sabda Nabi. Tak sepakat dengan kelompok yang pertama, menurut kubu yang kedua, hukum mengambil upah dari mengajarkan ilmu agama atau Alquran ialah boleh dan tak jadi soal selama tidak mematok harga tertentu. Pemasangan tarif terhadap aktivitas ini akan menghilangkan pahala dan keutamaannya. Pendapat itu merupakan opsi yang didukung oleh sejumlah ulama mazhab, yaitu generasi kedua dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali menurut salah satu riwayat, dan Zhahiri. Dalil yang dijadikan dasar oleh kubu kedua yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas. Hadis ini mengisahkan izin Rasulullah atas upah seorang sahabat yang telah membacakan ruqyah untuk warga yang terkena sengatan ular. “Sesungguhnya upah yang paling pantas bagimu ialah upah atas pembacaan dan pengajaran Alquran,” sabda Rasul. Sesungguhnya upah yang paling pantas bagimu ialah upah atas pembacaan dan pengajaran Alquran Argumentasi selanjutnya ialah kisah yang dinukilkan di riwayat Sahal bin Sa’ad. Rasul mengabulkan pernikahan sahabatnya dengan mahar bacaan Alquran. Tak sedikit generasi salaf yang memberikan upah bagi para pengajar Alquran, seperti Umar bin Khattab. Sosok berjuluk al-Faruq itu memberi upah dari kocek pribadinya kepada tiga pengajar Alquran di Madinah. Sa’ad bin Abi Waqash dan Amar bin Yasar memiliki tradisi mengupah para pembaca Alquran selama Ramadhan. Imam Malik pun pernah menegaskan, tak jadi soal menerima upah atas pengajaran ilmu agama, termasuk Alquran. “Aku belum pernah mendengar satu pun ulama yang melarangnya,” kata pencetus mazhab Maliki itu. Dilansir dari Harian Republika Edisi 23 Agustus 2013Terdapatdua pola penyajian lafadz infaq dalam al-Quran. Ada ayat-ayat yang secara tegas menyebut kata "harta" dengan didahului huruf jer dan ada yang tidak. Sebagaimana dalam surah al-Baqarah ayat 264 dan surah al-Nisa' ayat 34. Bahkan juga ada ayat tentang infaq tanpa menyebut kata "harta" yang terdapat dalam surah al-Hadid ayat 10. 2 episodes Tafsir Al-Qur'an adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur'an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin pemberi penjelasan, menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Qur'an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya. Kebutuhan umat Islam terhadap tafsir Al-Qur'an, sehingga makna-maknanya dapat dipahami secara penuh dan menyeluruh, merupakan hal yang mendasar dalam rangka melaksanakan perintah Allah sesuai yang memahami dan menafsirkan Al-Qur'an diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Qur'an dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Qur'an ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur'an ilmu-ilmu Al-Qur'an. Terdapat tiga bentuk penafsiran yaitu Tafsîr bil ma’tsûr, at-tafsîr bir ra’yi, dan tafsir isyari, dengan empat metode, yaitu ijmâli, tahlîli, muqârin dan maudhû’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya menafsirkan Al-Qur'an sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Nabi ﷺ sendiri. Ali ibn Abi Thâlib w. 40 H, Abdullah ibn Abbâs w. 68 H, Abdullah Ibn Mas’ûd w. 32 H dan Ubay ibn Ka’ab w. 32 H adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain. Tafsir Al-Qur'an adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Qur'an dan isinya berfungsi sebagai mubayyin pemberi penjelasan, menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Qur'an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak di pahami dan samar artinya. Kebutuhan umat Islam terhadap tafsir Al-Qur'an, sehingga makna-maknanya dapat dipahami secara penuh dan menyeluruh, merupakan hal yang mendasar dalam rangka melaksanakan perintah Allah sesuai yang memahami dan menafsirkan Al-Qur'an diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Qur'an dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Qur'an ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur'an ilmu-ilmu Al-Qur'an. Terdapat tiga bentuk penafsiran yaitu Tafsîr bil ma’tsûr, at-tafsîr bir ra’yi, dan tafsir isyari, dengan empat metode, yaitu ijmâli, tahlîli, muqârin dan maudhû’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya menafsirkan Al-Qur'an sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Nabi ﷺ sendiri. Ali ibn Abi Thâlib w. 40 H, Abdullah ibn Abbâs w. 68 H, Abdullah Ibn Mas’ûd w. 32 H dan Ubay ibn Ka’ab w. 32 H adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain. JUN 7, 2023 Tafsir Al Qur'an - Tafsir Isti'adzah dan Tafsir Basmalah 2 Tafsir Al Qur'an - Tafsir Isti'adzah dan Tafsir Basmalah 2 Dalil Isti'adzahفَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Maka apabila engkau Muhammad hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” An-Nahl98Bacaan Isti'adzah masyhurأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."Bacaan Basmalahبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيْمِ"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" MAY 31, 2023 Tafsir Al Qur'an - Tafsir Isti'adzah dan Tafsir Basmalah 1 Tafsir Al Qur'an - Tafsir Isti'adzah dan Tafsir Basmalah 1 Dalil Isti'adzahفَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ“Maka apabila engkau Muhammad hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” An-Nahl98Bacaan Isti'adzah masyhurأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."Bacaan Basmalahبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيْمِ"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" Top Podcasts In Religion & Spirituality .