Awalnyadiartikulasikan sebagai intermediate technology oleh ekonom Dr. Ernst Friedrich Fritz Schumacher dalam karyanya yang berpengaruh, Small is Beautiful. Meski, pemahaman teknologi tepat guna sangat beragam, di antara banyak bidang ilmu dan penerapannya. Teknologi umumnya tepat guna sebagai pilihan teknologi beserta aplikasinya.
Nintendo Labo. Foto NintendoDi zaman serba canggih, teknologi seolah menunjukkan industrinya adalah industri yang serba mahal. Meski begitu, tak sedikit pula pihak yang gencar menghasilkan produk ramah lingkungan untuk berkreasi dengan teknologi, misalnya menggunakan terbuat dari kardus, produk-produk teknologi ini ternyata memiliki kemampuan canggih. Lalu apa saja teknologi canggih yang bisa dibuat dengan kardus?Labo piano untuk Nintendo Switch. Foto NintendoNintendo Labo adalah teknologi kardus pintar yang bisa mengubah Nintendo Switch menjadi alat yang sesuai dengan bentuk kardus itu sendiri. Labo dapat menjadikan konsol Switch menjadi banyak alat permainan seperti pancingan, piano, hingga setang kardus pintar ini mirip dengan sistem Kinect buatan Microsoft, yang juga didesain untuk konsol game Xbox. Oleh karena itu, fungsi Kinect ini juga bisa digunakan untuk dimanfaatkan di industri lain seperti pada Januari 2018, Labo dijual dengan harga Rp250 ribu hingga Rp 300 ribu di VR dari kardus, Google Cardboard. Foto GoogleGoogle Cardboard merupakan headset virtual reality yang terbuat dari lipatan potongan kardus yang dirangkai sedemikian rupa agar menjadi VR ada kardus khusus untuk membuat VR kit ini, pengguna hanya perlu membuat potongan kardus sesuai dengan pola rancangan yang disediakan oleh Google. Untuk tampilan gambar, pengguna dapat menyisipkan smartphone Android dan sepasang lensa yang juga bisa dibeli disisipkan ke dalam Cardboard sehingga layarnya menghadap ke pasangan lensa, yang akan memproyeksikan tampilan layar itu ke mata pengguna untuk menikmati pemandangan 3D dari smartphone sebagai penampil gambar dan pusat pemrosesan ini membuat Cardboard tak perlu memiliki hardware khusus dan semua orang bisa memiliki VR hanya dengan kisaran harga keseluruhan diperkirakan antara 20 dolar AS dan 40 dolar AS antara Rp 280 ribu dan Rp 460 ribu.Kami-Oto, piano terbuat dari kardus. Foto KickstarterPerusahaan pencipta Kami-Oto adalah Yudo. Lewat situs galang dana Kickstarter, mereka memperkenalkan Kami-Oto, sebuah keyboard MIDI yang sepenuhnya terbuat dari kardus, terkecuali papan Kami-Oto tampak seperti Nintendo Labo Piano kit, tapi bedanya, Kami-Oto tidak membutuhkan Joy-Con untuk controller-nya. Justru perangkat ini bisa kompatibel dengan berbagai perangkat komputer atau smartphone, dengan mengandalkan sambungan pembuatannya juga hampir sama seperti Labo yang tidak membutuhkan lem dan gunting untuk perakitannya. Masing-masing tuts keyboard-nya berada di atas tombol-tombol silikon yang menempel langsung pada sederet pin di papan sirkuitnya merupakan rumah dari komponen elektronik Kami-Oto, mulai dari prosesor, amplifier, speaker sampai cip USB dan Bluetooth. Jika disambungkan ke smartphone, Kami-Oto bisa berperan sebagai synthesizer untuk berbagai aplikasi kreasi dengan teknologi komputer murah papan tunggal Raspbery Pi, Google menyediakan perangkat alternatif murah sebagai pengganti perangkat Google Home. Ya, murah karena perangkat asisten rumah ini terbuat dari akan menyediakan satu paket yang berisi papan aksesori Voice HAT yang akan terhubung dengan Raspberry Pi, papan PCB stereo mikrofon, speaker, tombol arcade besar, pilihan kabel, dan kotak kardus yang digunakan untuk menampung semua tambahan hardware Voice HAT Hardware Accessory on Top, Raspberry Pi bisa diprogram untuk mengenali perintah suara penggunanya, juga bisa menambahkan integrasi perintah suara ke proyek-proyek Pi yang Robot Kardus SmartibotSmartibot, robot yang terbuat dari kardus. Foto KickstarterDesainer robot Ross Atkin lewat Kickstarter membuka penggalangan dana untuk menciptakan sebuah robot kecil canggih yang terbuat dari kardus, bernama Smartibot. Smartibot dapat bekerja dengan menggunakan smartphone sebagai pengendalinya. Atau bisa juga menyisipkan smartphone di dalam tubuh robot untuk dijadikan sebagai seperti perangkat teknologi kardus yang lain, pengguna harus merakitnya sesuai dengan pola yang tersedia untuk bisa dihubungkan ke smartphone, Smartibot bisa menjadi berbagai jenis robot dan bisa melakukan beragam perintah sederhana, mulai dari mengikuti gerak-gerik objek sekitar, mengantarkan minuman, dan lain-lain.
Adminblog Tips Untuk Menggunakan 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait cara membuat teknologi tepat guna sederhana pramuka dibawah ini. cara membuat kardus menjadi barang berguna; cara membuat teknologi tepat guna sederhana dari barang bekas; Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat – Perkembangan di dunia nggak akan ada hentinya, yang pastinya akan terus membawa manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Tapi pernahkah terpikirkan oleh kamu tentang teknologi sederhana yang mampu selamatkan dunia? Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat Dengan biaya murah dan mampu dikerjakan sendiri alias do-it-yourself DIY, 6 teknologi ini dapat membantu kehidupan banyak orang, khususnya bagi mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Penasaran apa saja teknologi sederhana ini? Inilah 6 Teknologi Sederhana yang Selamatkan Dunia1. Rumah Printer 3D dari Tanah Liat2. Mesin Desalinasi Tenaga Matahari3. Pendingin Ruangan Tanpa Listrik4. Lampu Botol Air Tenaga Matahari5. Mesin Cuci Tenaga Pedal6. Printer 3D dari Barang Bekas Inilah 6 Teknologi Sederhana yang Selamatkan Dunia 1. Rumah Printer 3D dari Tanah Liat Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat Inilah printer 3D raksasa yang mampu “mencetak” rumah dengan biaya hanya US$50 alias Rp 665 ribu saja. Bahan yang digunakan pun murah dan mudah didapatkan. Projek rumah ini dikembangkan oleh WASP, sebuah perusahaan di Italia. Dengan ditemukannya rumah printer 3D dari tanah liat ini, kebutuhan akan rumah di berbagai belahan dunia akan terpenuhi tiap tahunnya. Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat . 2. Mesin Desalinasi Tenaga Matahari Air bersih sudah menjadi kebutuhan tiap manusia. Namun hal ini masih sulit didapatkan di beberapa tempat di dunia, salah satunya di Gaza. Fayez al-Hindi telah menciptakan mesin desalinasi yang dapat membuat 9,8 liter air bersih per harinya. Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat. Desalinasi adalah proses pemurnian air dengan menghilangkan polutan dan garam yang terlalu banyak dalam air. Sejak konflik antara Israel dan Palestina, 90 persen air yang dikonsumsi penduduk Gaza telah tercemar. Melalui penemuannya, al-Hindi telah membantu banyak penduduk sekitar untuk mendapatkan air bersih. 3. Pendingin Ruangan Tanpa Listrik Di tempat yang bertemperatur udara panas, agak susah untuk mendapatkan akses listrik. Eco Cooler menjadi solusi akan kebutuhan masyarakat sekitar akan pendingin ruangan tanpa menggunakan energi listrik. Eco Cooler ditemukan oleh Ashis Paul di Bangladesh. Dengan menggunakan sebuah papan dan botol plastik yang dipotong kemudian disusun, Eco Cooler dapat mengalirkan udara sejuk ke dalam rumah penduduk. Bahkan, penemuan ini dapat menurunkan suhu ruangan hingga 5 derajat Celcius! 4. Lampu Botol Air Tenaga Matahari Di daerah padat penduduk, kebutuhan akan sarana penerangan menjadi sebuah hal penting yang harus dipenuhi. Makanya, Liter of Light hadir di tengah biaya listrik yang cukup tinggi di Manila. My Shelter Foundation memanfaatkan botol plastik yang diisi air dan ditambahkan cairan pemutih untuk dijadikan sarana penerangan. Teknologi Sederhana yang Sangat Bermanfaat Instalasinya pun cukup mudah. Dengan melubangi atap, lampu ini dapat meneruskan cahaya matahari ke dalam rumah penduduk. Pada malam hari untuk membantu penerangan ditambahkan juga lampu LED yang dimasukkan ke dalam air. 5. Mesin Cuci Tenaga Pedal Di saat banyak orang menggunakan mesin cuci, masih banyak penduduk miskin dunia yang mencuci di aliran sungai. Tidak tinggal diam, penemuan baru akhirnya dibuat. Mesin cuci yang menggunakan tenaga pedal ditemukan oleh remaja 14 tahun asal India, Reyma dengan tenaga manusia, mesin cuci ini dikayuh dan tidak menggunakan energi listrik sama sekali. Saat ini, Jose yang sudah berumur 20 tahun, bekerja di India’s National Foundation, yang menciptakan penemuan-penemuan baru untuk membantu warna desa di negara asalnya. 6. Printer 3D dari Barang Bekas Berbekal impian memiliki printer 3D, Kodjo Afate Gnikou malah membuatnya sendiri menggunakan barang-barang bekas. Dengan modal hanya US$100 atau sekitar Rp 1,3 juta saja, Gnikou membuat printer 3D sendiri dari scanner, komputer, printer, dan barang bekas lainnya. Hebatnya lagi, Gnikou adalah member dari salah satu hacker lokal, WoeLab. Nah, itulah 6 penemuan sederhana di dunia yang mampu menyelamatkan dunia. Di tengah keterbatasan, nyatanya para penemu di atas mampu menggunakan barang-barang bekas untuk membantu sesama manusia. Apakah kamu punya ide lain? Share pada kolom komentar ya! About The AuthorSelain dari sekolah atau kuliah, saya sempat menjadi PMI di Korea Selatan, tepatnya di bidang otomotifBandarlampung ANTARA - Pengembangan dan inovasi teknologi tepat guna terus digaungkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat desa. Selama sepekan Gelaran Teknologi Tepat Guna Nusantara GTTGN Ke-24 berlangsung di Kota Bandarlampung. Provinsi Lampung kali ini ditunjuk menjadi tuan rumah kegiatan pengembangan serta pameran inovasi teknologi yang dibuat dari desa dan bermanfaat untuk desa. Dalam gelaran tersebut, selain didaulat sebagai tuan rumah, Provinsi Lampung berhasil meraih prestasi karena salah satu perwakilannya berhasil meraih juara pertama inovasi pengembangan teknologi tepat guna yang terwujud dalam bentuk mesin bajak roda satu. Inovasi pengembangan teknologi pertanian berupa mesin bajak roda satu itu merupakan pemikiran dan inovasi warga Desa Simpang Agung, Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah. Aryanto merupakan sosok penggemar bidang teknik mesin dan memiliki motivasi besar untuk mengembalikan semua sarjana ke desa guna membangun desanya. Pria ini menjadi pemikir utama terciptanya alat mesin pertanian berupa mesin bajak roda satu di Lampung. Pria yang sejak tingkat sekolah menengah kejuruan SMK hingga strata dua S-2 memilih konsentrasi keilmuan di jurusan teknik mesin itu termotivasi menciptakan mesin bajak roda satu, setelah kerinduannya membantu petani di desanya yang kesulitan dalam mengelola lahan pertanian karena belum memanfaatkan mekanisasi pertanian. Awal tergerak setelah ia melihat petani punya permasalahan di pertanian jagung karena proses pembajakan hingga pascatanam harus menggunakan sapi atau cangkul yang cukup melelahkan. Maka dibuat inovasi mesin bajak roda satu. Dari sini kemudian dikembangkan lagi dan ternyata bisa digunakan untuk beberapa fungsi lainnya untuk memudahkan kerja petani. Aryanto warga Kabupaten Lampung Tengah yang menjadi juara dalam gelaran teknologi tepat guna ke-24 tengah memaparkan hasil inovasinya. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi. Menurut pria berbadan tegap dan berkulit sawo matang itu, mesin bajak roda satu itu dirakit satu persatu dari lempengan besi lalu dipasangkan penggerak berupa pinwheel dan rasio pulley yang lebih mudah diperbaiki bila ditemukan kerusakan saat penggunaan oleh konsumen dibandingkan menggunakan gear box layaknya mesin pertanian pada umumnya. Pengetahuan dan keahlian desain hingga pengerjaan karya inovasi teknologi tepat guna di bidang mekanisasi pertanian itu tidak hanya didapatkan dari lingkungan pendidikan. Ia juga dapatkan dari pengalaman kerja sebagai pekerja migran Indonesia PMI di bidang otomotif di Negeri Ginseng beberapa tahun silam. "Selain dari sekolah atau kuliah, saya sempat menjadi PMI di Korea Selatan, tepatnya di bidang otomotif," ucapnya dengan antusias. Jadi, dari kerja di luar negeri itu ia serap ilmunya lalu diterapkan di kampung halaman. Selain itu dari kerja merantau ke negeri orang itu juga bisa mengumpulkan modal untuk membuat berbagai mesin ini. Namun dalam pengembangan inovasi teknologi tepat guna tersebut tidaklah selalu melalui jalan yang mulus, terlebih lagi hingga merengkuh prestasi yang membanggakan daerah tercinta sebagai pemenang pertama nasional Gelar Teknologi Tepat Guna. Di balik sukses itu, Aryanto sempat berkali-kali mengalami kegagalan hingga kerugian secara finansial. Kisah itu dimulai 10 tahun lalu, tepatnya pada 2013. Pada tahun pertama proyek inovasi mesin pertanian mulai dikerjakan, banyak kendala dalam desain mesin. Lebih dari lima kali uji coba selama bertahun-tahun, mesin itu selalu mengalami kegagalan fatal. Untuk bisa mencapai tingkatan sempurna agar mudah digunakan, pria yang menjadikan inovasinya ini sebagai bahan penelitiannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi hingga jenjang strata dua ini, mengalami lima kali kegagalan uji coba hingga memakan waktu 6 tahun lamanya. Dalam pengembangan inovasi itu, Aryanto harus merogoh dana pribadi dengan mengajukan pinjaman ke bank serta menguras tabungan hasil kerja keras sebagai PMI di luar negeri. Sejak desain pertama kali dibuat hingga mencapai hasil akhir, untuk membuat satu mesin bajak roda satu menguras dana sekitar Rp12 juta per unit. Meski telah mencapai keberhasilan dalam pengembangan teknologi tepat guna, ia tak lupa membagikan ilmunya kepada masyarakat sehingga mampu mengurangi pengangguran di desanya. Mesin bajak roda satu itu bisa digunakan multifungsi, dapat mengolah pada masa pratanam dan pascatanam. Pembuatan dan ide ini sudah ditularkan ke warga sekitar, bahkan saat ini empat orang telah bekerja dengannya di CV Arufal Teknik Lampung. Kalau usahanya makin besar maka bisa menampung lebih banyak lagi warga desa. Inovasinya itu pun mampu dikomersialkan dengan memanfaatkan digitalisasi pemasaran di berbagai lokapasar atau marketplace. Penjualan di sekitar Kabupaten Lampung Tengah tercatat mencapai 20 unit, sedangkan untuk provinsi lain telah mencapai lebih dari 100 unit. Rata-raya penjualan per bulan sebanyak empat unit, sedangkan laba per unit Rp1,5 juta. Model mesin bajak roda satu tersebut akan dikembangkan lagi menjadi lebih baik. Pengembangan teknologi tepat guna tersebut tidak hanya satu jenis tapi ada 12 macam produk yang bertujuan untuk mendukung UMKM dalam mengelola usahanya. Dua belas jenis produk teknologi tepat guna itu meliputi alat pembuatan pupuk organik dan nonorganik, alat pengolah ubi kayu menjadi mocaf, alat pengolah sampah, dan berbagai jenis lainnya. Beragam mesin atau alat yang belum dijual di toko itu masih akan dikembangkan dan dibuat inovasinya untuk memudahkan masyarakat, yang tadinya belum bisa menggunakan mesin dapat lebih memanfaatkan mekanisasi dalam setiap pengelolaan usaha, termasuk produk unggulan di Lampung. Rasa bangga dan ungkapan bahagia atas raihan prestasi serta pengembangan teknologi tepat guna yang memberi maslahat masyarakat juga disampaikan oleh Kepala Kampung Simpang Agung, Pramono. Bagi Pramono, dengan diraihnya prestasi tingkat nasional oleh warganya, diharapkan Kampung Simpang Agung dapat makin maju serta mengangkat kesejahteraan masyarakat karena ada getok tular dalam pengembangan ilmu dan inovasi kepada warga sekitar. Tak hanya itu, dengan berprestasinya warganya itu pihak desa juga telah menjadikan Aryanto sebagai salah satu mentor pemberdayaan talenta generasi muda yang ada di Karang Taruna desa, guna mengurangi pengangguran serta meningkatkan kemampuan pemuda desa setempat. "Karang Taruna akan diberdayakan, ini bisa mengurangi pengangguran dan banyak yang sudah bekerja di Bapak Aryanto. Jadi, kemajuan desa juga didukung dari warganya yang mau berkembang dan berinovasi. Kami sangat bangga," tambahnya. Dengan adanya motivasi dari warga desa sebagai inovator pengembangan teknologi tepat guna, Pemerintah pun menyambut dengan terbuka melalui pemberian apresiasi serta memperbolehkan penggunaan Dana Desa sebagai salah satu modal pengembangan teknologi tepat guna di desa. Inovasi Aryanto tersebut menjadi salah satu sistem pengembangan kemajuan dan masuknya teknologi di desa secara terintegrasi. Pemerintah Provinsi Lampung menyarankan desa tersebut menggandeng perguruan tinggi untuk ikut mendampingi usaha inovasi yang dibuat masyarakat desa demi kemajuan dan kesejahteraan warga desa. Aryanto telah menunjukkan bahwa ketekunan, keuletan, serta kemauan kuat belajar mampu membawa kemajuan. Bukan hanya dirinya, melainkan juga untuk desa dan juga bangsa Indonesia. Oleh karena itu pria asal Lampung Tengah itu mengajak warga desa yang telah menimba ilmu di kota dan meraih gelar sarjana, segera pulang membangun kampungnya. Editor Achmad Zaenal MEditor Achmad Zaenal M COPYRIGHT © ANTARA 2023menjadilebih mudah, murah, dan sederhana". Beberapa contoh teknologi tepat guna adalah teknologi kincir air yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan air dari sungai ke sawah atau dari sumur ke lahan pertanian, untuk menumbuk padi, untuk menghasilkan listrik (teknologi mikro hidro) guna keperluan penduduk di sebuah pedesaan yang tidak .