Sinaryang keluar dari kaca plan paralel pada bagian sisi lainnya akan sejajar dengan sinar datang semula dengan suatu pergesaran. Besarnya pergeseran antara sinar datang dan sinar bias dapat dihitung melalui rumus pergeseran sinar (d). Berkas sinar dari udara ke air melewati medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat. Sehingga, berkas
8. Seberkas sinar laser jatuh pada permukaan kaca plan paralel dapat membentuk sudut datang sebesar 45°. Jika tebal kaca plan paralel 15 cm dan sudut bias yang dihasilkan adalah 20°. Tentukan besar pergeseran yang dialami oleh sinar laser tersebut. Penyelesaian Diketahui i1 = 45° d = 15 cm r1 = 20° Ditanyakan t Jawab t = d sin i1 – r1 cos r1 t = 15 sin 45° – 20° cos 20° t = 15 sin 25° cos 20° Jadi, ketika melewati kaca plan paralel, sinar laser mengalami pergeseran sejauh 6,7 cm dari arah semula. 9. Sebuah sinar diarahkan ke salah satu sisi kaca plan paralel yang mempunyai ketebalan 4 cm. Jika sudut datang sinar tersebut 30° dan indeks bias kaca 2, tentukanlah pergeseran sinar pada kaca. Penyelesaian Diketahui d = 4 cm nkaca = 2 i1 = 30° Ditanyakan t Jawab Untuk mencari t, terlebih dahulu kita mencari sudut bias r1. Sesuai dengan Hukum Pembiasan, kita mendapatkan nudara sin i1 = nkaca sin r1 1 sin i1 = nkaca sin r1 sin i1 = nkaca sin r1 r1 = sin-11/4 r1 = 14,48° Kemudian besar pergeseran sinar dapat kita cari dengan persamaan berikut. t = d sin i1 – r1 cos r1 t = 4 sin 30° – 14,48° cos 14,48° t = 4 sin 15,52° cos 14,48° Jadi, pergeseran sinar tersebut adalah 1,11 cm. 10. Sebuah prisma terbuat dari kaca n = 1,5 memiliki sudut pembias 60°. Jika seberkas sinar laser jatuh pada salah satu permukaan prisma dengan sudut datang 30°, berapakah sudut deviasi yang dialami oleh sinar laser tersebut setelah melewati prisma? Penyelesaian Diketahui i1 = 30° nudara = 1 nkaca = 1,5 β = 60° Ditanyakan sudut deviasi δ Jawab Sudut deviasi dicari dengan menggunakan persamaan δ = i1 + r2 – β Oleh karena i1 dan β sudah diketahui, nilai r2 sudut bias kedua perlu ditentukan terlebih dahulu. Sebelum dapat menentukan r2, kita perlu mencari nilai dari r1 dan i2 terlebih dahulu. Menentukan r1 Pada permukaan pembias pertama, berlaku Persamaan Snellius sebagai berikut. n1 sin i1 = n2 sin r1 sin i1 = n2 dengan n1 = nudara dan n2 = nkaca sin r1 n1 sin r1 = 0,33 r1 = arc sin 0,33 r1 = 19,47° Menentukan i2 Nilai i2 ditentukan dengan menggunakan rumus sudut pembias prisma sebagai berikut. β = r1 + i2 Sehingga i2 = β – r1 i2 = 60° − 19,47° i2 = 40,53° Menentukan r2 Pada permukaan pembias kedua, berlaku Persamaan Snellius sebagai berikut. n1 sin i2 = n2 sin r2 sin i2 = n2 dengan n1 = nkaca dan n2 = nudara sin r2 n1 sin 40,53° = 1 sin r2 1,5 sin r2 = 0,65 × 1,5 sin r2 = 0,98 r2 = arc sin 0,98 r2 = 78,5° Jadi, sudut deviasi yang dialami cahaya ketika melewati perisma kaca tersebut sebesar δ = i1 + r2 – β δ = 30° + 78,5° – 60° δ = 48,5° 11. Sebuah prisma yang terbuat dari kaca n = 1,5 yang memiliki sudut bias 60° diletakkan dalam medium air. Jika seberkas sinar datang dari air n = 1,33 memasuki prisma, berapakah sudut deviasi minimum prisma tersebut? Penyelesaian Diketahui np = 1,5 na = 1,33 β = 60° Ditanyakan sudut deviasi minimum δmin Jawab δmin = [ 1,5 − 1 ] 60° 1,33 δmin = 1,17 – 160° δmin = 10,2° Dengan demikian, besar sudut deviasi minimum prisma tersebut adalah 10,2° 12. Seberkas cahaya bergerak ke salah satu sisi sebuah prisma bening yang terbuat dari bahan tertentu. Sudut pembias prisma adalah 15°. Prisma tersebut diputar sedemikian rupa sehingga diperoleh deviasi minimum sebesar 10°. Jika prisma tersebut berada di udara bebas nu = 1, berapakah indeks bias prisma tersebut? Penyelesaian Diketahui β = 15° δmin = 10° nu = 1 Ditanyakan indeks bias prisma np Jawab Karena sudut bias prisma kecil, maka berlaku persamaan 10° = np – 115° 10° = 15°np – 15° 15°np = 10° + 15° 15°np = 25° np = 25°/15° np = 5/3 Jadi, indeks bias prisma bening tersebut adalah 5/3. 13. Hitunglah sudut kritis berlian yang memiliki indeks bias mutlak 2,417 pada saat diletakkan di udara. Jawab Diketahui n2 = 1 udara n1 = 2,417 berlian Maka sudut kritisnya dapat dihitung dengan rumus berikut. Jadi, sudut kritis berlian tersebut adalah 24,4°. 14. Seberkas sinar datang dari medium kaca yang indeks biasnya 1,50 menuju ke medium air yang indeks biasnya 1,33. Tentukanlah sudut kritisnya. Jawab Diketahui n2 = 1,33 air n1 = 1,50 kaca Maka sudut kritisnya dapat dihitung dengan rumus berikut. Jadi, sudut kritis kaca tersebut adalah 62,5°. 15. Seekor ikan berada di dalam akuarium yang berbentuk bola dengan diameter 40 cm. Ikan berada pada jarak 20 cm dari dinding permukaan akuarium. Pada saat yang sama, seseorang melihat ikan dari jarak 50 cm. Jika indeks bias air 4/3, tentukan bayangan ikan yang dilihat orang dan bayangan orang yang dilihat ikan. Penyelesaian R = ½ diameter = 20 cm sikan = 20 cm sorang = 50 cm nudara = 1 nair = 4/3 Ditanyakan s’ikan dan s’orang Jawab Jarak bayangan ikan Ketika orang melihat ikan, cahaya datang dari ikan. Ini berarti cahaya dibiaskan oleh bidang cekung R positif, dan jarak ikan bernilai positif. Jadi, bayangan ikan yang dilihat orang dicari dengan menggunakan persamaan berikut nair + nudara = nudara – nair sikan s'ikan R 4/3 + 1 = 1 – 4/3 20 s'ikan 20 1 + 1 = –1/3 15 s'ikan 20 s’ikan = −60/5 s’ikan = −12 cm Jadi, orang tersebut melihat ikan seolah-olah berada pada jarak 12 cm dari dinding akuarium. Jarak bayangan orang Ketika ikan melihat orang, cahaya datang dari orang. Ini berarti cahaya dibiaskan oleh bidang cembung R negatif dan jarak orang bernilai positif. Jadi, bayangan orang yang dilihat ikan dicari dengan persamaan berikut. nair + nudara = nudara – nair sorang s'orang R 4/3 + 1 = 1 – 4/3 50 s'orang −20 4 + 1 = –1/3 150 s'orang −20 s'orang = 300/−3 s'orang = −100 cm Jadi, ikan melihat orang seolah-olah berada pada jarak 100 cm dari dinding akuarium. 16. Sebuah lensa divergen memiliki jarak fokus 15 cm. Berapakah kekuatan lensa tersebut? Penyelesaian Diketahui f = −15 cm lensa divergen atau cekung Ditanyakan P Jawab Karena dinyatakan dalam cm, maka kita gunakan rumus kekuatan lensa yang kedua, yaitu sebagai berikut. P = 100 = 100 = −6,67 f −15 cm Jadi, kekuatan lensa tersebut adalah −6,67 dioptri. 17. Sebuah lensa cekung mempunyai fokus 20 cm. Tentukan kekuatan lensanya! Penyelesaian Diketahui f = −20 cm = −0,2 m Ditanyakan P Jawab P =1/f P = 1/−0,2 P = −5 dioptri Jadi, kekuatan lensa cekung tersebut adalah −5 dioptri. 18. Sebuah benda terletak 10 cm di depan lensa cembung. Bila fokus lensa 15 cm, berapa jarak bayangan ke lensa? Penyelesaian Diketahui s = 10 cm f = 15 cm Ditanyakan s’ Jawab 1/f = 1/s + 1/s’ 1/s’ = 1/f – 1/s 1/s’ = 1/15 – 1/10 1/s’ = 2/30 – 3/30 1/s’ = –1/30 s’ = 30/–1 s’ = –30 Jadi, jarak bayangan ke lensa adalah 30 cm. Tanda negatif – menunjukkan bayangan maya. 19. Sebuah benda dengan tinggi 3 cm terletak 12 cm di depan lensa cembung yang memiliki jarak fokus 8 cm. Hitunglah tinggi bayangan! Penyelesaian Diketahui h = 3 cm s = 12 cm f = 8 cm Ditanyakan h’ Jawab Untuk menentukan tinggi bayangan, elemen-elemen yang harus kita ketahui terlebih dahulu adalah jarak bayangan s’ dan perbesaran bayangan M. Jarak bayangan 1/f = 1/s + 1/s’ 1/s’ = 1/f – 1/s 1/s’ = 1/8 – 1/12 1/s’ = 3/24 – 2/24 1/s’ = 1/24 s’ = 24/1 s’ = 24 cm Perbesaran bayangan M = s’/s M = 24/12 M = 2 Dari dua perhitungan di atas, kita peroleh s’ = 24 cm dan M = 2. Sehingga, tinggi bayangan dapat kita tentukan dengan cara berikut. M = h’/h 2 = h’/3 h' = 2 × 3 = 6 Dengan demikian, tinggi bayangannya adalah 6 cm. 20. Jika sebuah lensa bikonkaf memiliki kekuatan lensa 1,5 dioptri, berapakah jarak fokus lensa tersebut? Penyelesaian Diketahui Lensa = bikonkaf cekung P = −1,5 dioptri Ditanyakan f Jawab P =1/f f = 1/P f = 1/−1,5 f = −0,67 Jadi, lensa tersebut memiliki jarak titik fokus lensa 0,67 m = 67 cm.
Seberkascahaya (sinar) yang datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat akan dibiaskan mendekati garis normal. Ini berarti, sudut datang ( θ i ) lebih besar daripada sudut bias ( θ r ). Sudut datang adalah sudut yang dibentuk oleh sinar datang dengan garis normal permukaan.
Apabila kita melihat kolam yang airnya jenih, dasar kolam akan terlihat lebih dangkal dari sebenarnya. Perhatikan orang yang berdiri di dalam kolam! Pasti orang tersebut kelihatan lebih pendek dari sebenarnya. Begitu juga apabila kita melihat ikan di dalam kolam, ikan tersebut terlihat lebih dekat ke permukaan. Mengapa bisa terjadi hal seperti demikian? Cahaya merupakan salah satu bentuk gelombang baca teori-teori tentang cahaya. Oleh karena itu, peristiwa yang dialami gelombang juga dialami oleh cahaya. Ketika gelombang melalui dua medium yang berbeda, akan mengalami peristiwa pembiasan refraksi. Pembiasan ini juga dialami oleh cahaya. Peristiwa yang disebutkan di atas merupakan gejala pembiasan cahaya. Pembiasan cahaya adalah peristiwa pembelokan arah rambat cahaya ketika memasuki medium yang satu ke medium yang lain. Besarnya pembelokan atau pergeseran arah rambat cahaya yang keluar dari suatu medium bergantung pada kerapatan optik medium tersebut. Kerapatan optik ini merupakan sifat dari medium tembus cahaya zat optik dalam melewatkan cahaya. Jika cahaya masuk dari zat optik kurang rapat ke zat optik lebih rapat ex. udara ke air, cahaya dibiaskan mendekati garis normal. Sebaliknya, jika cahaya masuk dari zat optik lebih rapat ke zat optik kurang ex. kaca ke udara, cahaya dibiaskan menjauhi garis normal. Garis normal adalah garis yang tegak lurus pada bidang batas medium. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar di bawah ini. Besar kerapatan optik suatu medium dinyatakan dalam indeks bias. Itu artinya semakin besar indeks bias suatu medium berarti kerapatan optik medium juga semakin besar. Dan semakin besar kerapatan optik, maka akan semakin besar pula arah pembelokan cahaya yang melewati medium tersebut. Lalu tahukan kalian apa itu indeks bias? Beriku ini penjelasan lengkapnya, silahkan simak baik-baik. Pengertian Indeks Bias Setiap medium mempunyai suatu indeks bias tertentu, yang merupakan suatu ukuran seberapa besar suatu bahan membiaskan cahaya. Indeks bias suatu zat adalah perbandingan kelajuan cahaya di udara dengan kelajuan cahaya di dalam zat tersebut. Kelajuan cahaya di udara selalu lebih besar daripada di dalam zat lain. Oleh karena itu, indeks bias zat lain selain udara selalu lebih besar dari 1. Semakin besar indeks bias suatu zat maka semakin besar cahaya dibelokkan oleh zat tersebut. Besarnya pembiasan juga bergantung pada panjang gelombang cahaya. Dalam spektrum cahaya tampak, panjang gelombang cahaya bervariasi dari gelombang merah yang terpanjang sampai gelombang ungu yang terpendek. Macam-Macam Indeks Bias dan Rumusnya Ketika cahaya dari sebuah medium merambat melewati medium lain yang berbeda kerapatan optiknya, cepat rambat cahaya akan berubah. Cepat rambat cahaya akan berkurang jika memasuki medium dengan kerapatan tinggi. Sebaliknya, cepat rambat cahaya akan bertambah jika memasuki medium dengan kerapatan rendah. Perbandingan cepat rambat cahaya di ruang hampa c dengan cepat rambat cahaya di dalam medium disebut indeks bias mutlak. Indeks bias mutlak suatu medium dapat dicari dengan persamaan berikut. Keterangan n = indeks bias mutlak medium c = cepat rambat cahaya di ruang hampa 3 × 108 m/s v = cepat rambat cahaya di dalam medium. Berikut ini adalah beberapa contoh indeks bias mutlak beberapa medium yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel Indeks Bias Mutlak Berbagai Medium Medium Indeks Bias Ruang hampa vakum 1,0000 Udara 1,0003 Es 1,3100 Air 20°C 1,3300 Etil alkohol 1,3600 Kaca kwartz 1,4590 Kuarsa 1,4600 Gliserin 1,4700 Benzena 1,5010 Kaca plexi 1,5100 Kaca kerona 1,5200 Kaca flinta 1,6200 Batu nilam 1,7600 Intan 2,4200 Pembiasan terjadi apabila cahaya melewati batas dua medium. Seberkas cahaya sinar yang datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat akan dibiaskan mendekati garis normal. Ini berarti, sudut datang θi lebih besar daripada sudut bias θr. Sudut datang adalah sudut yang dibentuk oleh sinar datang dengan garis normal permukaan. Sementara, sudut bias adalah sudut yang dibentuk oleh sinar bias dengan garis normal. Perhatikan gambar berikut. Hubungan antara sinar datang, sudut datang, dengan sinar bias dan sudut bias ditemukan secara eksperimental oleh Willlebrord Snellius pada tahun 1621. Hubungan yang diberikan dikenal sebagai Hukum Snellius pada pembiasan cahaya, atau sering disebut saja dengan Hukum Pembiasan. Bunyi Hukum Pembiasan Snellius ini adalah sebagai berikut. Sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak dalam satu bidang datar. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias pada dua medium yang berbeda merupakan bilangan tetap yang disebut indeks bias. Pernyataan ini dapat dituliskan dalam bentuk persamaan Keterangan n1 = indeks bias medium 1 n2 = indeks bias medium 2 θi = sudut datang sinar θr = sudut bias sinar Pada hukum Snellius di atas, indeks bias mutlak medium 1 ditunjukkan oleh n1 dan indeks bias mutlak medium 2 ditunjukkan dengan n2. Sementara itu, perbandingan indeks bias mutlak dari dua buah medium disebut indeks bias relatif. Jika cahaya datang dari medium 1 dengan indeks bias n1 menuju medium 2 dengan indeks bias mutlak n2, maka indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1 dinyatakan dengan persamaan berikut. Dengan mensubtitusikan persamaan n = c/v, kita mendapat bentuk persamaan berikut ini. Keterangan n21 = indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1 θi = sudut datang θr = sudut bias n1 = indeks bias medium 1 n2 = indeks bias medium 2 v1 = cepat rambat cahaya pada medium 1 v2 = cepat rambat cahaya pada medium 2 Catatan Penting Cepat rambat cahaya di udara sama dengan cepat rambat di ruang hampa. Artinya, indeks bias udara bernilai 1. Jadi, jika cahaya dari udara memasuki medium dengan indeks bias n, maka indeks bias relatif medium sama dengan indeks bias mutlak medium tersebut. Contoh Soal dan Pembahasan Agar kalian dapat mengetahui penerapan konsep dan rumus indeks bias pada peristiwa pemantulan cahaya, silahkan pelajari beberapa contoh soal dan pembahasannya berikut ini. Contoh Soal 1 Cahaya merambat dari udara ke air. Bila cepat rambat cahaya di udara adalah 3 × 108 m/s dan indeks bias air 4/3, maka tentukanlah cepat rambat cahaya di air! Penyelesaian Diketahui c = 3 × 108 m/s nair = 4/3 Ditanyakan vair Jawab Maka cepat rambat cahaya di air dirumuskan sebagai berikut. Jadi, cepat rambat cahaya di dalam air adalah 2,25 × 108 m/s. Contoh Soal 2 Seseorang menyinari sebuah kaca tebal dengan sudut 30° terhadap garis normal. Jika cepat rambat cahaya di dalam kaca adalah 2 × 108 m/s, tentukan indeks bias kaca dan sudut biasnya. Penyelesaian Diketahui θi = 30° v2 = 2 × 108 m/s Ditanyakan n2 indeks bias kaca dan θr Jawab Untuk mencari indeks bias kaca, gunakan persamaan n = c = 3 × 108 m/s = 1,5 v 2 × 108 m/s Jadi, indeks bias kaca adalah 1,5 Untuk mencari sudut bias, gunakan hukum Snellius. sin θr = 0,33 θr = sin−1 0,33 θr = 19,27° Jadi, besar sudut biasnya adalah 19,27°.

Berkascahaya merambat dari udara dibiaskan ke suatu. 1. medium yang mempunyai indeks bias √6 dengan. 2. anah seperti gambar di samping. Sudut α pada gambar. tersebut adalah A. 15 o. B. 30 o 60 o. C. 45 o. D. 57 o α. E. 60 o. 03. EBTANAS-05-14. Perhatikan berkas sinar AO yang merambat dari udara (medium 1) menuju gelas (medium 2) dan

FisikaOptik Kelas 11 SMAAlat-Alat OptikPembiasan CahayaSeberkas sinar datang dari air n=4/3 ke udara dengan sudut datang 37. Tentukan sudut bias sinar di CahayaAlat-Alat OptikOptikFisikaRekomendasi video solusi lainnya0207Warna biru langit terjadi karena cahaya Matahari mengalam...0307Indeks bias udara besarnya 1 , indeks bias air 4 / 3 , d...0225Cahaya merambat dari udara ke air. Apabila cepat rambat c...Teks videoLogo Slank disini ada soal kita diminta untuk menentukan sudut Bias Sinar di udara. Apabila diketahui indeks bias dari air ke udara dan sekitarnya indeks bias sinar yang datang dari air ke udara atau N2 adalah 4 per 3 indeks bias medium yang satunya nilainya adalah 1 sudut datangnya adalah 7 derajat yang ditanya adalah sudut Bias Sinar di udara atau kesimpulkan Ir untuk menjawab soal ini jika menggunakan hukum perbandingan sinus Sudut datang dan sudut bias N1 atau indeks biasnya yang pertama dikali sinus Sudut datang sama dengan 2 dikali sinus sudut biasnya masukkan angkanya 1 dikali sinus 37 derajat = 4 per 3 x1 dikali sinus 37 derajat adalah sinus 37 derajat 37 derajat hasilnya adalah 0,6 = 4 atau 3 minus 0,6 dikali 3 per 1,8 = 4 x + r = 1,8 / 14 = 1,8 / 4 adalah 0,45 cm r nya adalah Sin 0,4 hasilnya adalah 27 derajat sudut Bias Sinar di udara adalah 7 derajat sampai jumpa di soal berikutnya
RisetZeroCov, diharap Desak, bisa dijadikan solusi penanggulangan covid-19. "Para ahli telah membuktikan kalau sinar UVC efektif menangani jenis virus corona lainnya, yakni Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)," ungkap Desak. Selanjutnya, Desak memaparkan perlu dilakukan pengujian pada berbagai variasi waktu dan konsentrasi dengan
Diketahui Ditanya Penyelesaian Perlu diperhatikan bahwa Berdasarkan soal, apabila sudut datang lebih besar dari , maka sinar akan terpantul sempurna. Hal ini berarti medium memiliki sudur kritis sebesar . Pada pemantulan sempurna, cahaya datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat atau dengan kata lain, indeks bias medium pertama harus lebih besar dari indeks bias medium kedua . Sehingga akan berlaku persamaan Hukum Snellius dengan karena terjadi pemantulan sempurna, maka Memenuhi salah satu syarat pemantulan sempurna, yakni . Jadi, indeks bias medium adalah 1,414. .
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/767
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/129
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/369
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/405
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/318
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/435
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/814
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/373
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/993
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/697
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/712
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/529
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/298
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/405
  • xjy6uxuq4s.pages.dev/987
  • seberkas sinar datang dari suatu medium ke udara